Mengenal Kitab Suci Umat Tao

Sebagai suatu agama, tentu saja ada yang namanya Kitab Suci. Sama halnya dengan agama lainnya, Agama Tao juga memiliki Kitab Suci. Lantas apakah kita tahu apa nama Kitab Suci dalam agama Tao? Jika kita melakukan pencarian di internet, pasti kita akan menemukan kalau Kitab Suci umat Tao adalah 道德經 (Dao De Jing ) – Kitab Moral & Kebajikan.

道德經 (Dao De Jing) ditulis langsung oleh Laozi, setelah beliau dicegat oleh Yin Xi, penjaga perbatasan di Han Gu Guan. Ying Xi mengenali bahwa ada orang besar yang akan melalui tempatnya berjaga. 道德經 (Dao De Jing) yang ditulis oleh Laozi pada abad ke-6 Sebelum Masehi, terdiri atas 5000 kata – dalam 81 bab.

Sesungguhnya dalam ajaran Tao dikenal sangat banyak Kitab Suci. Ada  南華真經 (Nan Hua Zhen Jing) karya Zhuang Zi, Kitab karya Liezi, Kitab karya Huai Nanzi, 清靜經 (Qing Jing Jing), 抱朴子 (Bao Pu Zi)  karya Ge Hong, ada juga yang berupa kumpulan Kitab yang disebut sebagai 道藏 (Dao Zang)-Kanon Taoisme. Di samping itu, karena agama Tao mengenal banyak Dewa-Dewi (神仙-Shen Xian), maka ada pula Kitab Suci yang mewakili masing-masing Dewa- Dewi tersebut. Contohnya adalah 太上感应篇 (Thay Shang Gan Ying Pian), Kitab Suci Guan Gong, dan sebagainya.

Bagi umat Tao – Thay Shang Men Xiao Yao Pai, diutamakan tiga Kitab Suci, yaitu: 太上老君真經 (Thay Shang Lao Jun Zhen Jing)- Kitab Suci Maha Dewa Thay Shang Lao Jun,二郎神真經 (Er Lang Shen Zhen Jing)-Kitab Suci Dewa Er Lang Shen, dan 福德正神真經 (Fu De Zheng Shen Zhen Jing) -Kitab Suci Dewa Fu De Zheng Shen.

Kitab Suci Thay Shang Lao Jun berbentuk syair, yang terdiri atas huruf.  Pada umumnya, isi Kitab Suci dibaca berulang-ulang dengan intonasi tertentu hingga terkesan menyanyi. Cara ini dikenal sebagai “Chanting / Nian jing / Liam keng / Nyam kin.” Tujuannya adalah agar tidak timbul rasa bosan dalam membaca Kitab Suci. Tetapi bagi umat Tao – Thay Shang Men Xiao Yao Pai, justru “menghindari” cara ini.

Umat Tao – Thay Shang Men Xiao Yao Pai menekankan pada pengertian dan pemahaman dari isi Kitab yang dibaca. Membacanya secara berulang-ulang tanpa mengerti apa makna dari isi Kitab, adalah “sia-sia”. Yang diharapkan adalah semakin maju pengertian yang dimiliki, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, ini akan “membawa perubahan” ke arah yang lebih baik, dalam menjalani kehidupannya.

Dalam membaca Kitab Suci, para umat pun tidak ada batasan atau prasyarat khusus seperti harus mandi terlebih dahulu, harus sembahyang terlebih dahulu, harus vegetarian, atau lainnya. Yang diutamakan adalah kenyamanan dan keamanan.

Dalam artian, bacalah di tempat yang cahayanya cukup terang, bacalah di ruang belajar, atau di atas tempat tidur, jangan membaca sambil menyetir. Di samping itu juga tidak ada batasan waktu tertentu dalam membaca Kitab tersebut, kapan pun boleh, mau pagi, siang, atau malam. Yang penting tidak sampai mengganggu kegiatan sehari-hari.

Berikan komentar

eight − six =