Ritual Tao setelah Tutup Usia

Tao adalah ziran (alamiah). Manusia mengalami lahir, sakit, tua, dan meninggal – ini adalah siklus hidup yang juga alamiah. Setiap manusia akan meninggal dan setiap keluarga pasti mengalami kehilangan. Dalam agama Tao ada rangkaian ritual untuk mengayomi umat Tao dan keluarga yang ditinggalkan ketika mengalami duka cita.

Bagi umat yang ingin menerapkan ritual Tao untuk sanak keluarga yang meninggal, pihak keluarga inti yang ditinggalkan wajib mencapai kesepakatan terlebih dahulu. Seluruh anggota keluarga wajib sepakat untuk mengikuti dan menjalankan rangkaian ritual kematian secara agama Tao ini secara penuh, tanpa keberatan apapun, di antaranya dalam hal memegang dupa (hio), gui bai (kowtow) kepada orang tua (yang meninggal), dan sebagainya.

Pihak keluarga perlu memberikan informasi mengenai tanggal dan waktu almarhum meninggal. Berdasarkan tanggal dan waktu ini, lantas akan dicarikan waktu terbaik bagi seluruh anggota keluarga untuk menjalankan ritual secara agama Tao. Mungkin ada yang berpikir kalau ini adalah “tradisi yang takhayul” karena kurangnya pengetahuan dan pengertian. Umat Tao senantiasa dianjurkan untuk pomi kaiwu (baca: pho mi khai u), artinya memberantas ketakhayulan dan membuka kesadaran. Jadi memilih waktu yang baik bukanlah suatu ketakhayulan. Waktu yang baik ini berlandaskan angka statistik yang diteliti, dicatat, dan diwariskan oleh orang Tao pada masa lalu.

  • Rulian yishi (baca: ru lien i-se) – ritual memasukkan jenazah ke dalam peti
    Pada tanggal dan waktu yang baik, ritual ini akan dilaksanakan. Pihak keluarga akan berbaris dan berlutut di sisi kanan dan kiri ketika jenazah dibawa masuk dari kamar es ke dalam ruangan. Selanjutnya jenazah akan dimasukan ke dalam peti. Jika semua sudah baik, dilanjutkan dengan menuangkan minyak wangi oleh anak dan cucu. Setelah itu, giliran sanak keluarga dan kerabat. Terakhir, anak cucu sungkem di sisi peti, kemudian peti langsung ditutup dan disegel.
  • Chaodu yishi (baca: chao tu i-se) – ritual mengantar arwah
    Chaodu yishi dilaksanakan pada malam hari sebelum jenazah dikubur atau dikremasi. Dalam pelaksanaannya, akan ada barisan petugas upacara yang diikuti oleh pihak keluarga almarhum. Selanjutnya, ada doa yang dipanjatkan sambil mengelilingi peti mati. Doa-doa yang dipanjatkan, di antaranya mengandung harapan agar perpindahan almarhum ke alam lain berjalan dengan baik, nama almarhum harum sepanjang masa, kebaikannya menembus ke langit, serta anak cucunya (keturunannya) diberkahi dan penuh kemakmuran.
  • Chubin yishi (baca: chu ping i-se) – ritual meninggalkan rumah duka menuju kuburan atau krematorium
    Ritual ini bertujuan agar perjalanan almarhum ke tempat peristirahatan terakhir dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Pada tanggal dan waktu yang baik – yang dipilih oleh pihak keluarga, pimpinan upacara akan memulai ritual. Pemimpin upacara akan menutup doa dengan membanting semangka utuh di depan mobil jenazah. Selanjutnya mobil jenazah akan berangkat meninggalkan rumah duka. Pada masa lalu, yinzi (gin coa / replika uang perak zaman dulu) akan ditebar di sepanjang jalan. Tujuannya agar sanak keluarga dan kerabat yang ikut mengantar tidak salah jalan. Namun, tradisi ini sudah tidak sesuai dengan zaman, bahkan dapat melanggar hukum, terutama saat melalui jalur bebas hambatan (jalan tol).

Pada masa silam, umat Tao pada umumnya dikubur di pemakaman. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, yang mana populasi manusia semakin banyak, ketersediaan tanah pemakaman semakin menipis, dan harga tanah semakin meroket, maka semakin banyak orang yang beralih ke proses kremasi.

Baik dimakamkan maupun dikremasi, umat Tao sangat memerhatikan lokasi yang dipilih. Berdasarkan salah satu cabang ilmu Tao, yaitu zhazan men fengshui (hong shui) kuburan, mulai dari lokasi, arah, kontur di sekitar, hingga bentuk kuburan sangat diperhatikan. Diusahakan agar bisa mendapatkan lokasi terbaik demi ketenangan almarhum dan kelangsungan generasi selanjutnya yang ditinggalkan. Minimal jangan sampai ada yang sengsara ataupun binasa.

  • Luozang yishi (baca: lo cang i-se) – ritual mengubur jenazah
    Setibanya di tempat pemakaman, peti mati diletakkan di atas liang lahad. Pihak keluarga berbaris di depan makam. Pemimpin upacara kemudian memimpin doa. Isi doa ini kurang lebih menyampaikan bahwa almarhum sudah selesai masanya di dunia dan kembali ke asal bersama Dewa-dewi, semoga seluruh anak cucu diberkati, sehat, dan jaya selamanya. Setelah itu peti mati dikubur ke dalam tanah. Ritual diakhiri dengan tebar bunga.

Jika almarhum akan dikremasi, ada dua (2) macam ritual yang perlu dilakukan. Yang pertama adalah ritual kremasi dan yang kedua adalah ritual melarung abu almarhum ke laut yang airnya jernih dan tenang.

  • Huozang yishi (baca: huo cang i-se) – ritual kremasi
    Setibanya di krematorium, peti mati diletakkan di depan pintu ruang kremasi. Anak, menantu, dan cucu memberikan penghormatan terakhir. Pemimpin upacara kemudian memimpin doa. Isi doa ini kurang lebih menyampaikan bahwa almarhum sudah selesai masanya di dunia dan kembali ke asal bersama Dewa-dewi, semoga seluruh anak cucu diberkati, sehat, dan jaya selamanya. Setelah itu peti mati didorong masuk ke ruang kremasi.
  • Saguhui yishi (baca: sa ku fei i-se) – ritual melarung abu
    Kremasi bukanlah tahap akhir dari ritual kematian secara agama Tao karena setelah kremasi, ada sisa bagian-bagian yang tidak habis dan menjadi abu. Ritual berikutnya adalah untuk menangani abu ini. Setelah kremasi, abunya sebaiknya ditebar ke laut yang feng shui-nya  baik. Pilihlah waktu dan lokasi yang baik juga demi generasi selanjutnya. Setelah pembacaan doa, abu jenazah dilarung (dituang rendah, bukan disebar) ke dalam laut. Lalu guci atau kantung merah yang sebelumnya digunakan untuk mewadahi abu jenazah akan dihancurkan, lalu ditenggelamkan ke dasar laut. Ritual diakhiri dengan tebar bunga, kemudian keluarga dan petugas upacara bai tiga kali kepada Dewa-dewi.