Harga Sebuah Dendam

Pada zaman Dinasti Han, di sebuah lembah sunyi bernama Fenggu, hiduplah dua sahabat, yaitu Han Liang dan Wei Zhou. Keduanya tumbuh bersama sejak kecil, berbagi tawa, bekerja di sawah yang sama, bahkan bersumpah akan saling menjaga seperti saudara.

Namun, nasib manusia berubah seperti arah angin. Suatu tahun, bencana kekeringan melanda. Panen gagal, dan warga mulai kelaparan. Pada malam hari, gudang padi milik Liang terbakar. Orang-orang menuduh Wei Zhou, sebab hanya dialah yang terlihat berada di sekitar tempat itu. Liang, dalam kemarahannya, tidak mendengarkan penjelasan sahabatnya. Ia bersumpah, “Demi langit dan bumi, aku akan membuat Zhou menyesali hidupnya!”

Zhou mencoba menjelaskan bahwa ia datang untuk menolong, tetapi Liang telah dibutakan oleh amarah. Sejak hari itu, persaudaraan mereka berubah menjadi permusuhan berdarah. Liang merencanakan balas dendam. Ia menyuap pejabat desa agar Zhou dituduh mencuri. Zhou pun dihukum, kehilangan tanah serta kehormatan keluarganya.

Namun, dendam tidak pernah berhenti di satu sisi. Beberapa tahun kemudian, setelah Liang menikah dan memiliki anak, ladangnya terbakar lebih hebat daripada sebelumnya. Orang-orang berkata bahwa itu adalah ulah Zhou. Liang murka, dan suatu malam ia membawa pisau, lalu menyelinap ke rumah Zhou. Namun, ketika ia membuka pintu, yang ia lihat hanyalah Zhou yang telah tua, terbaring lemah dengan wajah penuh kedamaian.

Zhou menatapnya dan berkata pelan, “Liang, aku tidak pernah membakar gudangmu, tetapi karena kebencianmu, aku kehilangan segalanya. Jika kau masih ingin membunuhku, silakan. Aku sudah mati sejak hari kau menuduhku.” Liang terpaku. Tangannya gemetar dan pisaunya jatuh ke tanah. Di hadapan sahabat lamanya, ia menangis sejadi-jadinya. Namun, penyesalan datang terlambat. Beberapa hari kemudian, Zhou meninggal dunia. Liang menggali kuburannya dengan tangannya sendiri. Tidak lama setelah itu, Liang jatuh sakit dan meninggal pada musim yang sama.

Orang-orang desa menanam dua batu nisan berdampingan dengan tulisan, “Sahabat yang terpisah oleh dendam, disatukan oleh penyesalan.” Sejak saat itu, lembah tersebut disebut Liang-Zhou Gu (Lembah Dua Kuburan). Orang yang melintas selalu berbisik, “Orang yang mengejar balas dendam harus menggali dua kuburan, satu untuk musuhnya dan satu untuk dirinya sendiri.”

Dendam tidak menghapus luka, tetapi justru memperdalamnya. Hanya pengampunan yang mampu menutup luka tanpa meninggalkan racun di hati. Seperti air yang tenang di lembah, kelembutan hati lebih kuat daripada amarah yang membara.