Sebagaimana kita ketahui, setiap perbuatan yang kita lakukan berawal dari pikiran. Pikiran yang baik akan menghasilkan perbuatan yang baik, sedangkan pikiran yang selalu dipenuhi kebencian, dendam, iri hati, dan hal-hal lain yang tidak baik akan menimbulkan keinginan untuk melakukan hal yang tidak baik pula. Oleh sebab itu, kita sebaiknya menjaga pikiran kita agar tetap bersih dan bebas dari kotoran-kotoran batin, seperti yang disebutkan di atas, sehingga kita senantiasa bisa berbuat kebaikan dalam hidup ini.
Mengapa kita harus berbuat baik? Awalnya, mungkin kita akan memiliki alasan tertentu dalam melakukan kebaikan. Misalnya, kita mau menolong seseorang karena dia pernah membantu kita sebelumnya atau kita berdonasi dengan harapan Dewa-dewi dapat melihat kebaikan kita sehingga kesejahteraan hidup kita akan lebih baik ke depannya. Jika seseorang membagikan makanan kepada orang-orang yang tidak mampu lalu dijadikan konten media sosial, bisa jadi itu merupakan bentuk promosi supaya videonya viral dan ada keuntungan yang dia dapatkan setelahnya. Namun, bisa juga semata-mata hanya sebuah bentuk ajakan agar orang lain turut berbagi.
Apa pun yang mendasari perbuatannya, hal yang dilakukannya adalah kebaikan karena menolong orang yang membutuhkan. Apakah salah memiliki alasan tertentu dalam melakukan kebaikan? Tentu tidak ada salahnya. Kita boleh saja terbiasa melakukan kebaikan dengan alasan tertentu, tetapi seiring berjalannya waktu, kebaikan yang beralasan itu sewajarnya akan berangsur-angsur menjadi kebiasaan yang kita lakukan tanpa alasan tertentu. Sampai pada waktunya kita berbuat kebaikan tanpa merasa telah berbuat kebaikan, dan tanpa harus mengharapkan pujian ataupun balasan dari orang lain, itulah kebaikan yang sesungguhnya. Pada saat itulah hati kita benar-benar bersih dan akan terpancar dari wajah yang cerah dan berseri.
Berbuat baik dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan mudah diucapkan secara teori, tetapi cukup sulit diterapkan secara konsisten. Kita mengerti bahwa yang diinginkan Dewa-dewi adalah kebaikan yang tulus tanpa pamrih. Awalnya, ada pamrih tidak masalah karena hal itu sangat manusiawi. Pada tahap selanjutnya, cobalah melakukan kebaikan dengan ketulusan hati, maka kita akan merasakan perbedaan perasaan yang ditimbulkan.
