Saat anak kecil belajar berbicara, mereka belajar dari kata-kata yang paling sederhana, seperti “ma”, “pa”, dan “ga”. Setelah itu, perlahan-lahan mereka belajar mengucapkan kata-kata yang lebih panjang, lalu menyusunnya menjadi kalimat pendek hingga akhirnya mampu membuat kalimat yang cukup panjang. Kadang-kadang, kalau dipikir-pikir, mengapa setelah dewasa kita justru merasa kesulitan mempelajari sesuatu? Seharusnya kita juga bisa belajar seperti anak kecil yang baru belajar berbicara. Kita tidak bisa menunggu hingga sempurna baru mulai melangkah dan berbuat. Seperti kita ketahui bersama, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Segala sesuatu pasti memiliki celah dan kekurangan.
Dalam belajar sesuatu, misalnya belajar bahasa asing, kalau kita menunggu sampai menguasai semua kosakata terlebih dahulu baru mulai berbicara, kita tidak akan pernah memulainya. Kosakata dalam suatu bahasa sangat banyak dan mungkin selalu bertambah dengan adanya kata-kata baru.
Seperti halnya ketika kita ingin memulai sebuah bisnis, kita juga harus belajar dari awal, dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Seiring berjalannya waktu, melalui proses belajar kita memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Dari sanalah kita dapat berkembang ke arah yang lebih besar.
Begitu pula dengan berbuat kebaikan. Kadang-kadang kita menundanya dengan alasan, “Nanti kalau sudah kaya, baru beramal. Besok kalau sudah mapan, baru bisa berbuat kebaikan,” dan seterusnya. Jika kita mempunyai pandangan seperti itu, kita akan terus-menerus menunda dan tidak pernah memulai. Seharusnya kita bisa belajar seperti anak-anak tadi yang memulai dari ketidaksempurnaan. Seiring waktu, kita terus memperbaiki kekurangan sehingga dapat terus maju. Biarlah semuanya berjalan dengan ketidaksempurnaan yang kita miliki terlebih dahulu. Walaupun berjalan lambat, jika dilakukan dengan pasti dan konsisten, seiring berjalannya waktu, segala kekurangan akan terus diperbaiki menuju kesempurnaan. Dengan terus berbuat kebaikan, kita pun akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
