Pada suatu hari saya mengajak anak-anak berkeliling untuk membagikan makanan kepada tukang becak yang sekarang semakin kurang diminati karena maraknya ojek online. Salah satu anak saya bertanya mengapa kita harus berbagi makanan. Saat itu, saya menjelaskan bahwa dalam sehari penghasilan mereka belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan makannya.
Kami melihat berbagai reaksi orang ketika menerima makanan. Ada yang bersikap cuek, ada yang hanya mengucapkan terima kasih, ada yang dari raut wajahnya memperlihatkan rasa syukur, ada yang mendoakan agar kami sehat dan rezeki lancar, serta ada yang mendoakan agar keinginan kami terkabul. Rata-rata dari mereka juga memperhatikan temannya, memanggil temannya agar ikut mendapatkan makanan, bahkan ada yang memintakan untuk temannya. Ada pula yang terlihat lega karena akhirnya ada makanan untuk dimakan. Ada juga orang yang diambilkan oleh temannya karena tidak berinteraksi langsung dengan kami sebagai pemberi; saat kami melewatinya, orang tersebut membungkukkan badan sebagai tanda mengucapkan terima kasih yang tak terucap. Dari berbagai ekspresi tersebut, saya mengatakan kepada anak saya betapa banyak orang yang mendoakan kita, padahal kita hanya berbagi sedikit. Saya juga mengingatkan anak saya agar tidak pilih-pilih makanan karena masih banyak orang yang tidak dapat makan.
Sejenak saya berpikir, jika kita berada di posisi orang yang diberi sesuatu oleh Shen, bagaimanakah sikap kita? Apakah kita akan bersikap cuek dan biasa saja, atau menerimanya dengan penuh rasa syukur? Jika kita sebagai pemberi melihat orang yang kita beri menerima dengan rasa syukur, kita akan merasa bahwa pemberian kita bermanfaat bagi orang tersebut dan hal itu membuat kita ingin memberi lebih banyak lagi. Sebaliknya, jika yang kita beri bersikap biasa saja, maka kita pun akan bersikap biasa saja. Demikian juga dengan diri kita; meskipun keinginan kita belum tercapai, tetapi ketika ada rezeki kecil yang datang, sebaiknya kita tetap menerimanya dengan penuh syukur.
Saya kemudian berpikir, orang-orang yang saya beri kebanyakan memanggil teman-temannya untuk memberitahukan bahwa ada orang yang sedang berbagi kebaikan. Mengapa kita yang mengetahui bahwa siu Tao itu baik justru tidak mau mengajak teman-teman kita dan memberitahukan kepada mereka bahwa siu Tao adalah hal yang baik?
Harapan saya, melalui kegiatan berbagi makanan ini, anak-anak saya selalu mengingatnya hingga mereka dewasa dan kelak semoga mereka juga mau berbagi dengan orang-orang di sekitarnya. Xie Shen en.
