Dalam masyarakat modern, kecerdasan dan kompetensi sering dianggap sebagai dua kunci utama kesuksesan. Sejak kecil kita diarahkan untuk belajar lebih keras, mendapatkan nilai lebih tinggi, dan menguasai lebih banyak keterampilan. Sekolah dan universitas mengukur kemampuan melalui ujian, sertifikat, dan berbagai bentuk penilaian lain yang bertujuan memastikan bahwa seseorang memahami materi dan mampu menerapkannya dengan baik.
Namun, di balik kedua hal tersebut, ada satu faktor lain yang sering luput dari perhatian, yaitu agency. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mengambil inisiatif dan bertindak ketika melihat ada sesuatu yang perlu dilakukan. Hal ini berkaitan dengan kesadaran bahwa tujuan dapat dicapai melalui tindakan dan kemauan untuk mengambil langkah pertama menuju tujuan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang sangat cerdas. Mereka mampu memahami masalah dengan cepat, menguraikan situasi yang rumit, dan memberikan analisis yang tajam. Ketika berdiskusi, mereka dapat menjelaskan berbagai kemungkinan solusi dengan meyakinkan. Namun, setelah percakapan selesai, tidak selalu ada tindakan nyata yang dilakukan.
Hal serupa juga dapat ditemukan pada orang yang sangat kompeten. Mereka memiliki keterampilan teknis yang tinggi dan mampu mengerjakan tugas dengan sangat baik ketika pekerjaan telah didefinisikan dengan jelas. Akan tetapi, inisiatif untuk memulai sesuatu yang baru atau mengambil langkah di luar kerangka yang sudah ada tidak selalu muncul dengan sendirinya.
Sebaliknya, orang dengan agency yang tinggi sering memulai dari kondisi yang jauh dari sempurna. Mereka mungkin belum mengetahui seluruh jawabannya dan kompetensi mereka masih berkembang. Hal yang mendorong mereka adalah keyakinan sederhana bahwa jika sesuatu itu penting, maka layak untuk dicoba. Mereka mengambil langkah pertama, belajar dari kesalahan, memperbaiki pendekatan, dan secara bertahap meningkatkan kemampuan sepanjang proses tersebut.
Banyak kisah sukses di berbagai bidang menunjukkan pola yang serupa. Orang-orang yang pada akhirnya mencapai sesuatu yang besar sering memulai tanpa kepastian yang lengkap. Mereka bergerak terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan arah seiring berjalannya waktu. Kompetensi tumbuh melalui pengalaman, sementara pemahaman terhadap masalah menjadi semakin dalam setelah berhadapan langsung dengan kenyataan.
Sayangnya, sistem pendidikan modern lebih banyak berfokus pada pengembangan kecerdasan dan kompetensi. Hal ini dapat dimengerti karena keduanya relatif lebih mudah diukur. Nilai ujian, indeks prestasi, dan sertifikat keterampilan memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kemampuan seseorang dalam memahami dan melakukan sesuatu. Agency jauh lebih sulit dinilai dengan cara yang sama.
Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan kemampuan analitis yang baik dan keterampilan yang memadai, tetapi tidak terbiasa mengambil inisiatif. Mereka terbiasa menyelesaikan masalah yang sudah dirumuskan oleh orang lain. Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak memiliki instruksi yang jelas, kecenderungan yang muncul adalah menunggu arahan atau menunggu kondisi yang dirasa cukup aman.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah agency merupakan sifat bawaan yang tidak dapat diubah atau sesuatu yang dapat dilatih. Meskipun sebagian orang mungkin memiliki kecenderungan alami yang lebih kuat, pengalaman menunjukkan bahwa agency juga dapat berkembang melalui kebiasaan. Salah satu cara paling sederhana adalah membiasakan diri mengambil langkah kecil tanpa menunggu kondisi sempurna. Banyak keputusan dalam kehidupan sebenarnya tidak membutuhkan kepastian penuh untuk mulai diambil.
Selain itu, agency juga tumbuh ketika seseorang terbiasa memandang masalah sebagai sesuatu yang dapat dipengaruhi, bukan sekadar diterima. Cara berpikir ini mendorong seseorang untuk mencari kemungkinan tindakan, sekecil apa pun, daripada berhenti pada analisis semata.
Lingkungan juga memainkan peran penting. Orang yang sering diberi ruang untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab cenderung mengembangkan agency yang lebih kuat. Sebaliknya, lingkungan yang terlalu menekankan kepatuhan terhadap instruksi sering kali membuat inisiatif pribadi menjadi tumpul.
Pada akhirnya, kecerdasan membantu seseorang memahami dunia dengan lebih baik, sementara kompetensi memungkinkan pekerjaan dilakukan dengan efektif. Agency memberikan dorongan yang membuat keduanya benar-benar dimanfaatkan. Tanpa agency, kecerdasan dan kompetensi sering kali hanya menjadi potensi yang tidak pernah sepenuhnya diwujudkan.
Pertanyaan yang layak kita renungkan mungkin bukan semata-mata apakah kita cukup pintar atau cukup terampil. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kita terbiasa mengambil inisiatif ketika melihat ada sesuatu yang perlu dilakukan.
