Pada masa lalu, salah satu cara untuk berbuat baik dan memberi manfaat bagi masyarakat luas adalah dengan menekuni bidang kesehatan atau menjadi tabib. Oleh karena itu, orang Tao pada masa lalu banyak yang terkenal memiliki keahlian dalam menyembuhkan orang sakit. Salah satu di antaranya yang paling terkenal adalah Wu Tao (吴夲).
Wu Tao dikenal juga sebagai Yun Dong (云东). Beliau hidup pada masa Dinasti Song, pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong (太宗). Keluarga beliau sejak leluhur terkenal di daerah Tong An (同安) hingga Xia Men (厦门), Provinsi Fu Jian (福建), karena kebaikan mereka dalam menolong orang-orang yang sedang kesulitan, termasuk mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Kedua orang tuanya dihormati oleh para tetangga karena dikenal menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan sehingga dapat membantu banyak orang.
Sejak kecil, Wu Tao sudah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Beliau gemar belajar dan membaca berbagai bidang ilmu seperti astronomi, geografi, hukum, administrasi pemerintahan, musik, serta tata cara dan upacara keagamaan. Beliau memiliki ketertarikan yang besar pada bidang pengobatan dan kesehatan sehingga mencurahkan perhatiannya pada bidang tersebut.
Pada usia 17 tahun, Wu Tao mendapat kesempatan untuk mendalami ajaran Tao dari salah seorang pertapa dari Gunung Kun Lun (昆仑山). Pada usia 20 tahun, beliau memperoleh kesempatan menjadi pejabat pemerintahan. Kemudian, pada usia 24 tahun, beliau berhasil lulus dalam ujian negara dan mendapat promosi menjadi pejabat di istana pada masa pemerintahan Kaisar Zhen Zong (真宗). Selama menjadi pejabat, beliaumenjalankan tugas dengan jujur dan adil, tidak mementingkan jabatan, kekuasaan, maupun kekayaan. Wu Tao senantiasa melayani masyarakat dengan baik serta menolong orang yang sakit atau membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun.
Ada beberapa kisah mengenai Bao Sheng Da Di. Berikut dua kisah di antaranya.
Pada suatu hari, Wu Tao sedang berjalan melintasi pegunungan. Dalam perjalanannya, beliau berjumpa dengan sekelompok orang yang sedang memikul peti mati. Peti mati itu tampak sangat sederhana dan kasar, menandakan bahwa yang meninggal bukan berasal dari kalangan berada. Dari celah-celah peti terlihat menetes darah segar, menandakan adanya pendarahan dan bahwa jenazah baru saja dimasukkan ke dalam peti.
Melihat hal tersebut, Wu Tao segera meminta rombongan itu berhenti dan membuka peti mati tersebut. Beliau ingin memastikan apakah orang yang berbaring di dalam peti benar-benar sudah meninggal atau masih dapat diselamatkan. Hal ini karena Wu Tao memandang bahwa nyawa manusia sangat berharga, jangan sampai seseorang yang masih bisa diselamatkan justru dikubur hidup-hidup.
Setelah peti dibuka, Wu Tao mendapati bahwa yang terbaring di dalamnya adalah seorang wanita berusia sekitar 30 tahun. Wanita tersebut baru saja melahirkan, mengalami pendarahan hebat, dan sangat lemas hingga pihak keluarga mengira ia telah meninggal.
Selanjutnya Wu Tao meminta agar wanita itu dikeluarkan dari peti agar dapat diperiksa dengan saksama. Setelah memeriksa dengan teliti, beliau mendapati bahwa wanita itu masih dapat diselamatkan. Setelah dirawat dengan telaten selama beberapa waktu, kondisi wanita tersebut akhirnya pulih kembali. Kejadian ini tersebar dari mulut ke mulut hingga ke berbagai daerah. Wu Tao dianggap sebagai tabib sakti yang mampu menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal.
Kisah kedua terjadi di istana Kaisar Ming Chengzu pada tahun 1409. Pada saat itu, Ratu Wen, ibu suri Kaisar, menderita sakit pada payudara. Berbagai tabib sudah diminta untuk mengobatinya, tetapi tidak ada yang berhasil mendiagnosis dengan tepat.
Sampai suatu hari, seorang tabib Tao mengajukan diri untuk memeriksa ibu suri. Namun, karena bagian tubuh yang sakit merupakan area pribadi, pemeriksaan harus dilakukan tanpa tatap muka langsung. Ibu suri ingin memastikan kemampuan tabib tersebut terlebih dahulu, sehingga ia meminta agar pemeriksaan denyut nadi dilakukan dengan menggunakan benang sutra dari ruangan yang berbeda.
Sebagai percobaan, benang sutra terlebih dahulu diikatkan pada kaki seekor kucing, lalu pada pegangan pintu. Ternyata, tabib itu benar-benar memiliki kemampuan luar biasa dan mampu menebak dengan tepat.
Akhirnya, ibu suri mempercayai kemampuan tabib tersebut dan bersedia diperiksa dengan menggunakan benang sutra. Setelah diperiksa dengan saksama serta ditemukan jenis dan penyebab penyakitnya, tabib itu memberikan berbagai macam perawatan dengan telaten tanpa melakukan kontak fisik langsung. Singkat cerita, ibu suri akhirnya sembuh.
Setelah ibu suri sembuh, Kaisar menanyakan kepada tabib tersebut hadiah apa yang diharapkannya. Wu Tao, sang tabib, mengatakan bahwa beliau ingin mengenakan jubah kebesaran yang digunakan oleh kaisar sebelumnya. Permintaan ini dikabulkan oleh Kaisar. Setelah Wu Tao mengenakan jubah kaisar, Kaisar Ming Chengzu segera berlutut seperti menghadap ayahandanya. Melihat hal ini, Wu Tao segera mengangkat Kaisar agar berdiri kembali.
Pada tahun 1419, Kaisar memberikan gelar kehormatan “Wan Shou Wu Ji Bao Sheng Da Di” kepada Wu Tao, yang kemudian lebih populer dengan sebutan Bao Sheng Da Di. Beliau juga dikenal dengan gelar Da Dao Gong.
Pada masa lalu, ketika tenaga medis masih sangat terbatas dan umat Tao membutuhkan pengobatan, mereka akan berdoa dan memohon pertolongan di Kelenteng Bao Sheng Da Di. Setelah berdoa, umat akan memohon petunjuk dan membawa petunjuk yang berupa resep ke toko obat untuk ditukar dengan ramuan herbal. Hari kebesaran Bao Sheng Da Di dirayakan setiap bulan ketiga tanggal lima belas menurut penanggalan Imlek (农历: 三月十五日).
Bao Sheng Da Di di Dinasti Song
Lindungi rakyat lepas dari maut
Nama harum jasa nonjol
Serba bisa serba agung
Lagu “Bao Sheng Da Di” bisa didengarkan di sini: https://open.spotify.com/track/0eC4QeXJZupFkRkCbpnvgC
