Abao adalah seorang pemuda yang dikenal cerdas, cepat, dan selalu penuh semangat. Namun, ada satu kelemahan besar dalam dirinya, yaitu ia terlalu terburu-buru dalam bertindak. Apa pun yang ada di pikirannya, langsung ia lakukan tanpa pertimbangan matang.
Suatu hari, Abao melihat pengumuman dari istana. Raja sedang mencari duta muda untuk dikirim ke negeri tetangga. Hadiah dan kehormatan menanti siapa pun yang terpilih. Tanpa berpikir panjang, Abao segera menulis surat lamaran. Ia yakin keberaniannya cukup untuk meyakinkan Sang Raja.
Keesokan harinya, saat seleksi dimulai, para calon duta diuji bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kebijaksanaan. Raja memberikan sebuah teka-teki, “Di jalan pegunungan, kau bertemu cabang jalan. Satu menuju desa penuh makanan, satu menuju jurang tanpa dasar. Namun, papan petunjuknya rusak, kata-katanya tak jelas. Apa yang akan kau lakukan?”
Banyak peserta terdiam, merenung. Namun, Abao langsung menjawab lantang, “Aku akan segera memilih jalan yang tampak lebih bagus dan melangkah cepat karena hanya orang yang berani yang bisa tiba lebih dahulu.”
Raja hanya tersenyum, tidak memberikan komentar. Kemudian, seorang peserta tua berkata dengan tenang, “Hamba akan berhenti sejenak, memperhatikan tanah, mendengar arah angin, mungkin bertanya kepada burung atau mengamati jejak langkah yang ada. Lebih baik lambat tetapi selamat, daripada cepat tetapi celaka.”
Raja pun mengangguk puas. Abao merasa malu, tetapi belum menyerah. Di ujian berikutnya ia kembali terburu-buru mengambil keputusan salah. Hingga akhirnya, ia gagal terpilih sebagai duta.
Dengan hati kecewa, ia berjalan pulang. Di perjalanan, Abao melihat seorang kakek menebang pohon. Kakek itu berhenti setiap kali hendak menebang batang besar, lalu mengelus batang itu tiga kali sebelum mengayunkan kapaknya. Abao bertanya heran, “Kakek, mengapa kau selalu berhenti setiap kali sebelum menebang? Bukankah itu memperlambat pekerjaanmu?”
Kakek itu tersenyum bijak, “Anak muda, sekali aku terburu-buru menebang tanpa berpikir, pohon tumbang menimpa rumahku sendiri. Sejak itu aku belajar, sebelum mengayunkan kapak, aku harus berpikir tiga kali: apakah arah jatuhnya aman, apakah aku kuat menahan, dan apakah waktunya tepat. Lebih baik berhenti sejenak untuk berpikir, daripada berhenti selamanya karena penyesalan.”
Sejak hari itu, Abao mengingat pepatah “三思而后行”(sān sī ér hòu xíng), bahwa dalam kehidupan, setiap tindakan memiliki konsekuensi. Berpikir tiga kali sebelum bertindak bukan berarti kita menjadi penakut, ragu-ragu, atau tidak berani melangkah. Justru sebaliknya, itu adalah tanda kedewasaan dan kebijaksanaan. Orang yang berhati-hati tidak kalah cepat, hanya saja ia melangkah dengan lebih pasti. Ia tahu, langkah kecil yang penuh pertimbangan lebih berharga daripada lompatan besar yang salah arah.
