Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, kita tidak pernah terlepas dari keberadaan orang lain. Perbedaan pemikiran dan pemahaman antara seseorang dan orang lainnya terkadang menyebabkan kesalahpahaman yang dapat menyakiti perasaan orang lain maupun diri kita sendiri. Manakah yang lebih sulit, meminta maaf atau memaafkan? Keduanya merupakan hal yang sulit. Tidak menutup kemungkinan hingga saat ini kita masih membawa perasaan bersalah karena belum meminta maaf atau perasaan kesal karena belum memaafkan.
Sebenarnya, meminta maaf atau memaafkan bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Hal ini terjadi karena semakin besar perasaan marah ataupun bersalah terhadap seseorang, hal tersebut akan menimbulkan ganjalan di hati dan dapat menurunkan produktivitas seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari, yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental. Menurut Indonesian Journal of Counseling and Development volume 3 nomor 2 tahun 2021 halaman 108–109, disimpulkan bahwa: “Untuk mencapai kebahagiaan sejati, diperlukan sikap memaafkan dari diri seseorang karena hal itu sangat penting dan berpengaruh terhadap kesehatan mental.”
Meminta maaf yang benar diawali dengan rasa bersalah, kemudian disertai permintaan maaf yang tulus. Namun, ada kalanya dunia memaksa kita untuk meminta maaf, padahal kita tidak merasa bersalah ataupun melakukan sesuatu yang melawan kebenaran. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan kita tidak dapat meminta maaf dari hati. Contohnya, seorang anak yang tidak mau meminjamkan barangnya hingga membuat saudaranya menangis, lalu anak tersebut disuruh meminta maaf. Akhirnya, si anak hanya meminta maaf sekadarnya dengan mengucapkan kata “maaf” atau “I’m sorry” tanpa ketulusan ataupun rasa penyesalan.
Meminta maaf yang didahului dengan rasa bersalah dan penyesalan merupakan permintaan maaf yang sesungguhnya karena berasal dari hati. Namun, masih ada satu tahapan setelah permintaan maaf yang tulus, yaitu mengingat kejadian tersebut dan tidak mengulanginya pada masa yang akan datang.
Sementara itu, memaafkan yang benar diawali dengan menerima kesalahan orang lain dengan ikhlas, kemudian memaafkan dengan tulus. Sama halnya dengan meminta maaf, memaafkan juga memiliki satu tahapan lanjutan, yaitu melupakan kejadian yang telah terjadi.
Jadi, apabila kita merasa sudah meminta maaf, tetapi saat kejadian serupa terulang kita masih melakukan hal yang sama, tanyakanlah pada hati kita, “Apakah kita benar-benar menyesal dan merasa bersalah?” Begitu juga sebaliknya, saat kita merasa sudah memaafkan seseorang, tetapi masih mengingatnya secara mendetail, silakan koreksi kembali dalam hati, “Apakah kita sudah benar-benar memaafkan?”Meminta maaf dan memaafkan merupakan dua hal sulit yang harus kita pelajari dalam kehidupan ini. Walaupun sulit, dengan berlatih kita akan terbiasa dan mampu menjadi lebih ikhlas dalam memaafkan serta meminta maaf dengan tulus sehingga kita dapat meningkatkan nilai diri kita sebagai seorang manusia yang xiu Dao.
