Kesempatan Kedua

Sebagai seorang manusia, tentunya kita tidak luput dari kesalahan yang pernah kita lakukan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Jika kita diberikan kesempatan kedua untuk memperbaikinya, akankah kita melakukannya?

Masalahnya, kita baru bisa berusaha memperbaikinya jika memang mengetahui bahwa kita telah berbuat kesalahan sebelumnya. Apabila kita tidak menyadarinya, apakah kita bisa memperbaikinya? Jika kita tidak tahu telah berbuat salah, walaupun diberikan kesempatan kedua, kita mungkin akan melakukan kesalahan yang sama lagi.

Pernahkah Sahabat Tao melakukan suatu kesalahan, tetapi baru menyadarinya ketika seseorang memberitahukannya kepada kita? Agar kita bisa lebih memahaminya, mari kita ambil contoh kecil berikut ini.

  • Saat merokok, secara tidak sadar kita berulang-ulang mengembuskan asap rokok ke depan orang lain saat sedang berbicara. Terkadang, si perokok tidak menyadari bahwa hal ini membuat lawan bicara merasa terganggu sampai orang tersebut menegurnya.
  • Dalam lingkungan pekerjaan, sebagai seorang pegawai yang baru pertama kali bekerja dan belum memiliki pengalaman, si A diminta oleh atasannya untuk mengetik sebuah surat kepada klien dan menyerahkannya sebelum pulang kerja. Si A menyelesaikan tugasnya tepat waktu dan merasa telah mengerjakannya dengan baik. Sang atasan yang baru memeriksa hasil ketikannya setelah si A pulang menemukan beberapa penulisan yang disingkat, seperti kata “yang” menjadi “yg”, “tanggal” menjadi “tgl”, dan sebagainya. Karena si A sudah pulang, akhirnya atasannya memperbaiki tulisan tersebut tanpa memberitahukannya kepada si A. Pada kesempatan lain, karena si A tidak mengetahui bahwa surat resmi tidak boleh menggunakan singkatan, kesalahan yang sama pun terulang kembali. Akhirnya, si A ditegur oleh atasannya atas kesalahan tersebut.

Hal seperti ini sering kali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, diperlukan kesadaran (wu) atas setiap tindakan yang kita lakukan. Selain itu, diperlukan juga wawasan dan pengetahuan yang cukup luas. Dengan begitu, apabila kesempatan kedua datang, kita mampu menyadari kesalahan yang pernah diperbuat sehingga dapat memperbaikinya.

Jika kita pernah berbuat salah atau silap, temukanlah kesempatan kedua dan perbaikilah. Walaupun mungkin sulit memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur salah, daripada dibiarkan begitu saja, lebih baik kita memperbaikinya semampu kita. Belajarlah dari kesalahan dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.