Yu Huang Da Di (玉皇大帝)

Umat yang bersembahyang atau bai-bai di kelenteng adalah umat yang menghormati banyak Shen Xian (Dewa-dewi Tao). Mereka sering kali tidak menyadari bahwa mereka juga merupakan umat Tao karena yang di-bai secara turun-temurun adalah Dewa-dewi Tao. Karena di kelenteng pada umumnya tidak terdapat kelas untuk mendalami agama Tao, banyak umat yang mengalami kesulitan ketika berdiskusi mengenai agama, Tuhan, ataupun ritual keagamaan yang dijalani.

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan adalah, “Umat yang bai kepada banyak Shen Xian, apakah bai kepada Tuhan? Jika ya, yang mana?” Jika kita perhatikan dengan teliti, sebenarnya setiap kali kita bai-bai di kelenteng mana pun, selalu ada satu altar pertama yang kita bai. Ketika kita bersembahyang di altar ini, yang kita bai adalah Tian Gong (天公), yang dikenal juga sebagai Yü Huang Da Di (玉皇大帝).

Bangsa Tionghoa adalah bangsa yang religius sehingga agama Tao lahir dan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban bangsa Tionghoa. Sejak ribuan tahun lalu, bangsa Tionghoa sudah bersembahyang kepada Yang Mahatinggi yang diyakini memiliki kekuasaan dan kemuliaan yang agung. Siapakah yang dimaksud? Masyarakat pada masa itu belum memiliki sebutan yang seragam untuk-Nya. Namun, karena Yang Mahatinggi tersebut diyakini sebagai “Yang Mahakuasa, Maha Pengasih, dan Mahaluas”, bangsa Tionghoa memberikan penghormatan kepada Tian (天) atau Langit sebagai perwakilan. Selanjutnya, karena hubungan spiritual ini sangat dekat, intim, dan pribadi, Yang Mahatinggi tersebut disapa sebagai Tian Gong (天公) atau Kakek Langit, serta Lao Tian Ye (老天爷) atau Kakek Tua Langit.

Sejak Dinasti Zhou, kaisar beserta keluarga dan pejabat pemerintahan, ketika bai, menggunakan sapaan yang lebih formal, yaitu Hao Tian Shang Di (昊天上帝). Penggunaan sapaan ini berlangsung selama ribuan tahun hingga pada masa Dinasti Song, Kaisar Zhen Zong memberikan gelar resmi Hao Tian Jin Que Wu Shang Zhi Zun Zi Ran Miao You Mi Luo Zhi Zhen Yu Huang Shang Di (昊天金阙无上至尊自然妙有弥罗至真玉皇上帝). Di kemudian hari, masyarakat umum ikut menggunakan sapaan Yü Huang, tetapi dengan sedikit perubahan dari Shang Di menjadi Da Di, yaitu Yü Huang Da Di (玉皇大帝), agar tidak dihukum oleh kaisar.

Di beberapa kelenteng besar, Yü Huang Da Di digambarkan dalam wujud kaisar agung yang karismatik di atas singgasana kekaisaran, lengkap dengan topi dan jubah kebesaran, serta diapit oleh dua dayang di sisi kanan dan kiri sebagai lambang pemimpin tertinggi para Shen Xian. Sementara itu, di kelenteng lain pada umumnya, altar Tian Gong hanya berupa hiolo tanpa visualisasi apa pun dan langsung menghadap Tian (Langit).

Khusus umat dari daerah Fujian, mereka memiliki tradisi bersembahyang khusus pada tanggal sembilan bulan pertama menurut penanggalan Imlek. Konon, sembahyang khusus ini berkaitan dengan suatu peristiwa pada masa lalu. Saat pergantian tahun, masyarakat di daerah Fujian diserang oleh sekelompok penjahat sehingga harus menyelamatkan diri dengan bersembunyi di hutan tebu. Oleh karena itu, mereka tidak dapat melaksanakan sembahyang pergantian tahun. Setelah kawanan penjahat pergi dan situasi kembali kondusif, masyarakat dapat kembali ke tempat tinggal mereka dan mengadakan sembahyang kepada Tian Gong sebagai ungkapan terima kasih atas perlindungan yang telah diberikan dan memohon berkah untuk tahun yang baru. Itulah sebabnya umat dari daerah Fujian menggunakan ornamen tebu ketika bersembahyang kepada Tian Gong (Yü Huang Da Di) pada tanggal sembilan bulan pertama menurut penanggalan Imlek.