Pada zaman dahulu di Tiongkok ada empat orang yang menjalani xiu Dao, yaitu Zi Si, Zi Yu, Zi Li, dan Zi Lai. Mereka awalnya tidak saling mengenal. Namun, karena suatu kebetulan yang telah ditakdirkan, mereka bertemu dan segera merasa akrab. Setelah saling berbagi pengalaman, mereka menyadari bahwa pemahaman mereka tentang Tao sangat selaras. Sejak saat itu, mereka menjadi sahabat sejati yang saling menghargai.
Mereka bersama-sama mengemukakan pandangan hidup yang mendalam bahwa dari sudut pandang Tao, segala pertentangan sebenarnya merupakan satu kesatuan. Hidup dan mati, ada dan tiada, bukanlah hal yang terpisah, melainkan bagian dari satu aliran yang terus bergerak secara alami. Untuk menjelaskan hal ini, mereka menggunakan perumpamaan: kehampaan seperti kepala, kehidupan seperti tulang punggung, dan kematian seperti tulang ekor. Ketiganya saling terhubung dan membentuk satu kesatuan yang utuh.
Pandangan ini membuat mereka tidak lagi takut pada hidup dan mati, serta tidak lagi terikat pada perasaan untung dan rugi. Bagi mereka, siapa pun yang mampu memandang dunia dengan cara seperti ini adalah sahabat seperjalanan dalam Tao. Setelah saling memahami, mereka pun kembali ke jalan masing-masing untuk melanjutkan praktik xiu Dao, tetapi dengan ikatan batin yang lebih mendalam.
Tidak lama kemudian, Zi Yu sakit parah. Ketika Zi Si menjenguknya, ia mendapati bahwa tubuh Zi Yu telah berubah drastis akibat penyakit. Namun, yang mengejutkan, Zi Yu tetap tenang dan tidak menunjukkan keputusasaan. Ia memandang penyakitnya sebagai bagian dari perubahan alami, bukan sebagai suatu kemalangan.
Ketika ditanya apakah ia merasa kesal atau diperlakukan tidak adil, Zi Yu menjawab bahwa manusia hanyalah salah satu bentuk ciptaan. Jika Sang Pencipta ingin mengubah dirinya menjadi bentuk apa pun, ia akan menerimanya. Baginya, memperoleh dan kehilangan hanyalah persoalan waktu. Segala sesuatu memiliki waktunya sendiri sehingga tidak perlu dipaksakan ataupun ditolak.
Sikap ini membuatnya tetap tenteram meskipun berada dalam penderitaan. Ia percaya bahwa kegelisahan manusia muncul karena keterikatan pada untung dan rugi. Jika keterikatan itu dilepaskan, seseorang dapat membangun ketenangan batin yang tidak mudah tergoyahkan.
Kemudian, Zi Lai juga jatuh sakit dalam kondisi kritis. Ketika Zi Li datang menjenguk, ia melihat keluarganya menangis di sekeliling tempat tidur. Namun, ia menghentikan suasana itu karena menurutnya, tangisan tersebut tidak seharusnya mengganggu proses alami kehidupan. Dalam pandangannya, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perubahan. Ia memandang sahabatnya dengan penuh hormat, seolah-olah sedang menyaksikan sebuah peralihan yang khidmat.
Menjelang akhir hayatnya, Zi Lai menunjukkan sikap yang sama. Ia mengibaratkan langit dan bumi sebagai orang tua, sedangkan perubahan alam sebagai sesuatu yang lebih tinggi lagi. Jika perintah orang tua harus ditaati, perubahan alam tentu lebih patut diterima. Hidup adalah bentuk kasih, dan mati pun demikian, hanya merupakan bentuk lain dari ketenangan dan tempat kembali.
Ia juga menggunakan perumpamaan besi di dalam tungku: manusia seperti besi yang ditempa menjadi berbagai bentuk. Jika besi bersikeras memilih bentuknya sendiri, hal itu justru tidak alami. Kebijaksanaan sejati adalah menerima proses tersebut tanpa perlawanan ataupun keterikatan.
Akhirnya, Zi Lai meninggal dengan tenang, seolah-olah memasuki bentuk keberadaan yang lain. Kisah ini menunjukkan bahwa sikap lapang dada yang sejati bukanlah menghindari kenyataan, melainkan mampu menghadapinya dengan tenang setelah memahami perubahan. Hidup dan mati hanyalah tahapan dalam satu perjalanan yang sama—dan ketenangan batin inilah yang menjadi makna sejati dari perjalanan xiu Dao seseorang.
“Belajar Tao harus mengerti sungguh artinya Im Yang, sekali-kali jangan dibekukan di atas suatu bentuk atau keadaan. Kalau tidak, tentu tak akan melihat keseluruhannya, karena teori Tao adalah teori yang hidup gerak. Jika tak mempunyai otak yang encer untuk mengimbangi, niscaya tak akan dapat menggunakannya.”
(Buku Siu Tao menuju Kesempurnaan)
