Wilayah yang dalam sejarah dikenal sebagai Yan Yun Shiliu Zhou (燕云十六州) atau Enam Belas Prefektur Yan dan Yun, merupakan salah satu kawasan paling strategis dalam sejarah Tiongkok. Daerah ini mencakup wilayah yang sekarang berada di sekitar Beijing dan Datong, serta sebagian wilayah Hebei utara dan Shanxi utara. Secara geografis, kawasan ini berada di jalur pegunungan dan celah-celah strategis yang sejak lama menjadi bagian penting dari garis pertahanan alami antara dataran pertanian Tiongkok di selatan dan padang rumput yang dihuni bangsa-bangsa nomadik di utara. Selama berabad-abad, wilayah ini berfungsi sebagai gerbang utara yang melindungi jantung wilayah Tiongkok. Namun, setelah runtuhnya Dinasti Tang pada awal abad ke-10, negeri itu terpecah dalam kekacauan politik yang dikenal sebagai Periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan. Dalam situasi inilah seorang panglima bernama Shi Jingtang meminta bantuan kepada kekuatan Khitan yang kemudian dikenal sebagai Dinasti Liao untuk merebut kekuasaan. Sebagai imbalannya, Shi Jingtang menyerahkan Enam Belas Prefektur kepada Liao dan mengakui kedudukannya sebagai bawahan kaisar Liao. Dengan bantuan pasukan berkuda Liao, ia berhasil mendirikan Dinasti Later Jin (Hou Jin, 后晋). Namun, harga yang harus dibayar sangat besar, yaitu hilangnya salah satu kawasan pertahanan paling penting di utara. Wilayah yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari pertahanan Tiongkok di utara itu kemudian berada di bawah kekuasaan Liao selama beberapa generasi dan baru kembali ke tangan Dinasti Ming pada abad ke-14.
Ketika Dinasti Song menyatukan sebagian besar Tiongkok pada tahun 960, para kaisarnya segera menyadari bahwa kehilangan Yan Yun telah mengubah keseimbangan kekuatan di utara. Tanpa wilayah itu, garis pertahanan alami yang selama ini melindungi dataran utara Tiongkok menjadi hilang. Beberapa kaisar Song berusaha merebutnya kembali, terutama Kaisar Taizong dari Song, yang melancarkan ekspedisi besar ke utara, tetapi gagal menembus pertahanan Liao. Pada akhirnya, Dinasti Song terpaksa menerima kenyataan pahit dan menandatangani Perjanjian Chanyuan pada tahun 1005 yang memaksa Song membayar upeti tahunan kepada Liao.
Pergantian kekuasaan di utara pun tidak mengubah keadaan. Pada awal abad ke-12, Dinasti Jin menaklukkan Liao. Dinasti Song sempat bersekutu dengan Jin untuk menghancurkan Liao dengan harapan wilayah Yan Yun dapat diperoleh kembali. Harapan itu segera berubah menjadi bencana. Jin tidak hanya menolak mengembalikan wilayah tersebut, tetapi justru berbalik menyerang Song. Serangan tersebut mencapai puncaknya dalam Insiden Jingkang (Jingkang zhi Nan, 靖康之難), ketika ibu kota Song jatuh dan kaisarnya ditawan. Dinasti Song kemudian mundur ke selatan dan kehilangan seluruh wilayah utara. Ketika kekuatan baru muncul di Asia Timur, yaitu Kekaisaran Mongol yang kemudian mendirikan Dinasti Yuan, wilayah Yan Yun tetap berada di luar kendali dinasti Tiongkok. Bangsa Mongol bahkan menjadikan kota yang kini dikenal sebagai Beijing sebagai ibu kota kekaisaran mereka.
Wilayah Yan Yun akhirnya kembali berada di bawah kekuasaan dinasti Tiongkok ketika Dinasti Ming menggulingkan Dinasti Yuan pada abad ke-14. Zhu Yuanzhang, yang kemudian dikenal sebagai Kaisar Hongwu, berhasil mengusir kekuasaan Mongol dari Tiongkok pada tahun 1368 dan merebut kembali wilayah utara, termasuk bekas prefektur Yan Yun. Bagi banyak orang pada masa itu, kemenangan tersebut bukan hanya pergantian dinasti, tetapi juga pemulihan kendali atas wilayah utara yang telah dikuasai oleh bangsa asing selama lebih dari empat abad. Beberapa dekade kemudian, putra Kaisar Hongwu, Kaisar Yongle, mengambil keputusan yang sangat simbolis sekaligus strategis dengan memindahkan ibu kota kekaisaran dari Nanjing ke Beijing pada tahun 1421. Dengan menempatkan pusat pemerintahan di wilayah yang dahulu pernah berada di bawah kekuasaan Liao, Jin, dan Yuan, Dinasti Ming tidak hanya memperkuat pertahanan terhadap ancaman dari utara, tetapi juga secara politis menegaskan bahwa gerbang utara Tiongkok telah kembali dikuasai.
Sejarah Yan Yun pada akhirnya sering dipersonifikasikan melalui dua gambaran tokoh yang kontras. Shi Jingtang dalam banyak catatan sejarah dipandang sebagai pengkhianat karena menyerahkan wilayah strategis kepada kekuatan asing demi memperoleh takhta. Penilaian ini tidak sepenuhnya keliru karena keputusan tersebut benar-benar melemahkan pertahanan Tiongkok selama berabad-abad dan membuka jalan bagi dominasi kekuatan dari utara terhadap dataran Tiongkok. Namun sebagian sejarawan mengingatkan bahwa ia hidup dalam masa kekacauan politik ketika para panglima perang dan penguasa daerah sering membuat aliansi untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Di sisi lain, para penguasa Dinasti Ming, terutama Kaisar Yongle, dipandang sebagai tokoh yang memperkuat kembali posisi politik dan militer Tiongkok di utara dengan merebut kembali wilayah itu dan menjadikannya pusat kekuasaan. Ironisnya, kota yang dahulu diserahkan kepada kekuatan asing kemudian berkembang menjadi pusat kekuasaan kekaisaran dan kini menjadi ibu kota Tiongkok. Beijing berdiri di wilayah Yan Yun, membuktikan betapa strategisnya wilayah itu. Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa satu keputusan politik pada abad ke-10 dapat memengaruhi keamanan, politik, dan keseimbangan kekuatan sebuah peradaban selama ratusan tahun.
