Zaman dahulu kala, di sebuah negeri bernama Liang Jing, hiduplah seorang pertapa bijak bernama Tuan Zhou yang tinggal di kaki Gunung Xuan. Konon, beliau adalah murid dari seorang dewa langit dan memiliki kemampuan membaca hati manusia.
Pada suatu hari, dua anak yatim piatu bernama Shan (善) dan Huai (坏) ditemukan oleh Tuan Zhou di tengah hutan. Mereka adalah saudara kembar, tetapi sifat keduanya berbeda bagaikan siang dan malam.
Shan tumbuh lembut, suka menolong, dan selalu mengalah demi kedamaian. Sebaliknya, Huai gemar mencuri, menyakiti binatang, dan merasa bangga jika orang lain takut kepadanya. Tuan Zhou tidak menghukum mereka, melainkan memberikan masing-masing sebutir benih ajaib dan berkata, “Tanamlah benih ini di tanah kehidupanmu. Rawatlah dengan perbuatan dan pikiranmu setiap hari. Kelak, benih itu akan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya.”
Shan menanam benih tersebut dengan penuh cinta. Ia menyiramnya dengan ketulusan, merawatnya dengan kerja keras, dan melindunginya dengan doa. Benih itu tumbuh menjadi pohon suci yang bercahaya, memberikan buah penyembuh dan naungan bagi siapa pun yang datang.
Huai juga menanam benihnya, tetapi setiap hari ia menyiramnya dengan amarah, memupuknya dengan niat buruk, dan merawatnya dengan kebencian. Pohonnya tumbuh menjadi pohon gelap beracun yang mengisap cahaya serta menyebarkan duri dan kabut jahat ke sekitarnya.
Pada suatu malam, badai besar melanda Gunung Xuan. Petir menyambar pohon milik Huai hingga terbakar. Api hitam itu hampir menghancurkan seluruh hutan. Namun, pohon Shan yang bercahaya melindungi tanah dan hewan-hewan di sekitarnya.
Melihat hal itu, Huai menangis dan berkata kepada Tuan Zhou, “Mengapa pohonku menghancurkan segalanya, sementara pohon saudara kembarku menyelamatkan semua?”
Tuan Zhou menatapnya dengan mata penuh welas asih dan berkata, “Karena benih kebaikan tidak pernah boleh engkau tinggalkan. Benih itu perlahan memberi kehidupan. Namun, benih kejahatan, sekali engkau pelihara, akan tumbuh liar dan memakan dunia, terutama dirimu sendiri.”
Sejak hari itu, Huai menebas pohonnya sendiri dan memohon kepada langit agar diberi sebutir benih yang baru. Ia memulai kembali dengan susah payah, belajar menanam kebaikan seperti Shan.
Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan harus dijaga dan dilanjutkan meskipun hasilnya tidak selalu tampak segera. Sementara itu, kejahatan, sekalipun kecil, jika dibiarkan tumbuh dapat merusak segalanya. Jangan pernah kehilangan kebaikanmu dan jangan memberi ruang bagi kejahatan di dalam hatimu!
