Beberapa puluh tahun lalu, sewaktu masih remaja, saya mendapatkan hoki besar karena dapat merasakan secara langsung di-daoyin oleh Li Shanghu Shifu. Benar-benar menjadi sebuah momen pertemuan yang abadi dan tak terlupakan.
Pertama kali melihat Shifu, kesan pertama yang muncul di benak saya adalah Beliau terlihat seperti orang tua pada umumnya, tidak tampak garang layaknya seorang suhu, tetapi sangat bersahaja. Pakaiannya sederhana dan rapi, berupa kemeja putih lengan panjang bermotif garis-garis tipis dengan lengan baju yang dilipat. Aura dan karisma yang terpancar membuat batin ini terasa sejuk saat melihatnya.
Sebelum prosesi dao yin dimulai, terlebih dulu diadakan jiang Dao di ruangan terpisah. Saat itu saya ingat, Shifu menjawab setiap pertanyaan dengan serius, tetapi santai. Meskipun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kadang terkesan menantang dan tidak sopan, seperti, “Bisakah Anda membuktikan kepada kami dengan menghadirkan dewa di sini?” Beliau tetap menanggapi semuanya dengan senda gurau dan ketenangan yang luar biasa. Di sinilah saya terkesan dengan kecerdasan dan keagungan Beliau sebagai seorang guru.
Saat prosesi dao yin berlangsung, Shifu menampilkan raut wajah yang serius, khusyuk, dan apa adanya. Sikap tersebut terasa sangat mengayomi para calon murid yang sedang mengikuti prosesi. Perasaan yang muncul dalam diri saya saat itu adalah rasa nyaman, tenang, dan aman, seolah terlindungi oleh kehadiran sosok seorang guru. Dalam hati saya berkata, “Aku menemukan jalan yang luar biasa.”
Namun, dalam perjalanan xiu Dao, ketika membaca salinan fotokopi jiang yi, banyak kalimat yang belum saya mengerti. Karena jarak yang memisahkan, satu-satunya media komunikasi yang dapat dilakukan adalah menulis surat untuk mendapatkan penjelasan dari Shifu. Tak disangka, surat balasan selalu datang dengan sangat cepat, berisi jawaban yang ringkas dan padat, diketik menggunakan mesin tik secara manual.
Setelah beberapa kali bersurat-menyurat dengan Beliau, saya baru menyadari bahwa rasanya kurang pantas jika Shifu harus menanggung beban perangko untuk membalas surat-surat saya yang kadang hanya berisi satu atau dua pertanyaan. Oleh karena itu, saya berinisiatif menyelipkan perangko balasan di setiap surat yang saya kirimkan kepada Shifu. Tanya jawab melalui surat ini berlangsung setidaknya belasan kali dan tidak satu pun surat saya yang tidak dibalas oleh Beliau.
Setelah cukup lama bersurat dengan Shifu, suatu hari saya secara tidak sengaja mendengar dari seorang senior bahwa Shifu kewalahan karena harus membalas puluhan hingga ratusan surat setiap hari. Meskipun demikian, Beliau tetap dengan tulus membalas setiap surat yang masuk. Hal ini menyadarkan saya bahwa saya juga telah merepotkan Beliau dengan surat-surat pertanyaan saya. Sejak saat itu, saya berhenti mengirim surat pertanyaan kepada Shifu. Jika ada pertanyaan, biasanya saya mencatat dan mengumpulkannya terlebih dahulu, lalu menanyakannya kepada para senior.
Shifu tidak pernah mengeluh lelah dalam melayani murid-muridnya. Pertanyaan-pertanyaan saya sebagai seorang remaja yang mungkin sangat sepele dan remeh-temeh tetap dilayani dan dijawab dengan serius. Pelayanan Shifu ini sangat menyentuh hati kecil saya. Meskipun jarang bertemu secara langsung, di dalam hati saya tersimpan sosok seorang guru yang luar biasa, seorang guru yang sangat rendah hati dalam melayani.
Pernah juga saya merasa iri kepada murid-murid yang dapat selalu berada dekat di sisi Shifu dan memperoleh wejangan secara langsung setiap saat. Namun, jika direnungkan lebih dalam, kehadiran Shifu sesungguhnya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Beliau dapat hadir di dalam hati setiap muridnya, menyejukkan batin, dan menuntun menuju Tao yang mulia.
Memupuk Tao mendapatkan pahala.
Menjunjung tinggi Tao dikaruniai Dewa-Dewa.
(Kitab Suci Er Lang Shen)
