Hanya Menasihati

Sebagai manusia yang hidup bersama banyak orang, kita memiliki penilaian tersendiri terhadap orang lain yang biasanya bersifat subjektif. Subjektif adalah penilaian yang didasarkan pada sudut pandang kita sendiri, baik sebagai orang tua, anak, teman, bahkan musuh. Penilaian subjektif ini mudah berubah sesuai dengan tingkat kedekatan seseorang. Saat merasa tertarik dan mulai mendekat, kita cenderung memberikan banyak penilaian positif. Namun, ketika hubungan sudah semakin dekat dan sifat asli seseorang mulai terlihat, kita mulai memberikan penilaian yang cenderung negatif.

Karena sudah dekat dengan seseorang, kita merasa memiliki andil untuk memperbaiki cara berpikir, sifat, atau tingkah lakunya menurut versi kita. Kedengarannya tidak ada yang salah dengan memperbaiki seseorang yang dekat dengan kita karena kita ingin mereka berubah dan menjadi lebih baik. Namun, saat mereka mengikuti anjuran kita, apakah mereka pasti akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya? Apakah yang kita katakan pasti benar? Pada kenyataannya, hampir semua orang tidak suka dinasihati karena merasa hidupnya dikekang dan diatur.

Yang kedua, saat menasihati, kita berharap orang tersebut akan berubah dan mengikuti nasihat kita. Harapan yang bersyarat ini membuat kita menjadi marah saat nasihat kita tidak diikuti atau tidak dilaksanakan. Kemarahan ini sebenarnya tidak perlu karena setiap manusia memiliki proses belajar masing-masing.

Yang ketiga, kita berharap menjadi tokoh yang penting bagi seseorang karena membawa perubahan besar dalam kehidupannya. Lalu bagaimana seharusnya cara menasihati yang baik?

Berikut beberapa tips menasihati dengan tujuan hanya untuk menasihati.

  1. Hal terpenting, jangan memberikan nasihat saat seseorang tidak meminta saran atau nasihat. Terkadang, orang lain hanya ingin ceritanya didengarkan tanpa memerlukan nasihat atau masukan dari kita sebagai pendengar.
  2. Jangan langsung menyalahkan seseorang pada kalimat pertama. Gunakan kalimat yang baik dan sopan tanpa kata-kata yang bersifat menyerang, seperti “Wah, kamu salah kalau begitu ….” atau “Seharusnya bisa diperbaiki kalau kamu tidak ….”.
  3. Gunakan kata-kata seperti “Menurut pendapat saya ….”, “Dari buku yang saya baca kemarin, seharusnya ….”, atau “Jika saya berada di posisi kamu, saya akan ….”.
  4. Ingat, tugas kita hanya menasihati. Jangan mempersoalkan secara pribadi apabila nasihat kita tidak disetujui atau tidak dilaksanakan. Keputusan akhir tetap berada di tangan orang yang bersangkutan.
  5. Lupakan apa yang sudah kita lakukan. Tidak perlu memberi tahu orang lain bahwa kita telah menasihati seseorang, apalagi sampai berkata “Untung mau mengikuti nasihat saya, kalau tidak ….”. Lakukan kebaikan dan lupakanlah.

Nasihat sebaiknya disampaikan dengan niat tulus dan tanpa paksaan. Menasihati bukan untuk mengubah orang lain, melainkan untuk menyampaikan kepedulian dengan cara yang tepat. Selebihnya, setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.