Manusia Tidak Bisa Meninggalkan Tao (人不离道)

Bertemu Tao adalah soal waktu. Mungkin hari ini seseorang belum menyadari Tao, tetapi suatu saat nanti ia pasti akan menemukan Tao. Manusia tidak bisa lari dari Tao karena manusia berasal dari Tao dan akan kembali ke Tao. Tao juga tidak akan meninggalkan manusia karena Tao melahirkan segalanya dan terus memeliharanya, termasuk manusia tanpa kecuali.

Alam semesta yang begitu besar dan tak terbatas ini ternyata berasal dari Tao yang mahabesar. Saking besarnya, Tao tak berbentuk dan sulit dideskripsikan dengan kata-kata manusia. Tao tak terbatas dan tak berhingga. Manusia ibarat butiran debu di dalamnya. 

Tao yang mahabesar ini berjalan menurut kealamiahannya sehingga disebut 道法自然 (Dao fa ziran). Kealamiahan Tao dapat kita tangkap sebagai aturan atau hukum alam. Segala sesuatu di alam semesta ini mengikuti kealamiahan Tao ini, termasuk manusia tanpa kecuali. Bagaimana mungkin manusia dapat lari dari Tao jika ia ada di dalamnya?

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Just Follow the Dao! Ikuti pola-pola kealamiahan Tao. Tidak ada jalan lain selain menaati hukum-hukum alamiah Tao. Sifat dan pola jalan Tao secara alamiah sudah ada dalam diri setiap manusia. Tinggal bagaimana manusia menemukan kembali jalan itu.

Kehidupan manusia sering kali dipenuhi oleh keinginan dan ambisi yang tidak perlu sehingga mengaburkan jalan alamiah Tao. Jika kita bisa sedikit demi sedikit mengurangi pikiran dan ambisi yang berlebihan, perlahan-lahan kita akan merasakan jalan Tao dalam hati terdalam.

Dalam meditasi Tao (jing zuo), misalnya, kita belajar mengendalikan pikiran liar yang berlari ke sana kemari hingga mencapai kondisi batin yang hening bening. Tujuannya adalah menemukan kembali kealamiahan Tao dalam diri. Dengan menemukannya, berarti kita sudah mengikuti arus yang benar, kembali ke pangkuan “ibu” dari segala yang ada, dan memperoleh keselamatan abadi.

Namun, banyak manusia masih sibuk dengan kepintarannya. Pikiran mereka semakin liar, ditambah ambisi yang tak terkendali, seakan-akan mampu menaklukkan segalanya. Padahal, baru sedikit saja menang dari sesama manusia, batin mereka sudah diliputi kesombongan dan lupa asal-usulnya. Apakah mereka bisa bertemu Tao? Jawabannya bisa. Hanya saja, mungkin belum waktunya. Suatu saat nanti mereka akan menyadari, kembali ke jati diri, dan menemukan jalan pulang ke Tao.

Tao yang mahabesar selalu mengayomi manusia. Jika manusia mau menyadarinya, ia tidak akan ragu untuk kembali kepada Tao. Seperti kata-kata di dalam doa yang berbunyi, “一心皈依道 (yi xin guiyi Dao),” yang artinya “dengan segenap hati menuju Tao”. Daripada membuang waktu dengan berjalan tanpa arah, lebih baik segera menyadari jati diri sebagai manusia dan mengingat sumber sejatinya. Itulah jalan terbaik untuk mencapai keselamatan abadi.

人不离道, 道不离人 (Ren bu li Dao, Dao bu li ren) berarti manusia tidak bisa meninggalkan Tao dan Tao pun tidak akan meninggalkan manusia. Untuk apa ragu, jika memang itu sudah jalannya?

Kejar kesempurnaan, hati mantap ke Tao-nya.
Hindari bencana kehidupan, hanyalah Dewa-Dewa lindungi kita.(Siutao Menuju Kesempurnaan)