Saya mencoba berbagi pengalaman pernikahan yang telah saya jalani selama sepuluh tahun. Perbedaan pendapat dalam pernikahan merupakan hal yang wajar dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Akan tetapi, mampukah kita mengatasi perbedaan pendapat tersebut? Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki pemikiran, latar belakang, dan cara penyelesaian masalah yang berbeda. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini dapat memicu konflik yang berkepanjangan.
Saya mencoba menyikapinya dengan berfokus pada masalah, bukan menyerang pribadi. Hindari sikap menyalahkan, misalnya dengan mengatakan, “Kamu selalu egois!” Sebaliknya, cobalah menggantinya dengan kalimat seperti “Aku merasa tidak didengar ketika .…”
Menurut saya, cara berfokus pada masalah tersebut cukup efektif. Hal terpenting lainnya adalah mencari titik tengah atau kompromi. Tidak semua masalah harus berakhir dengan “menang atau kalah”. Carilah solusi yang dapat memenuhi kebutuhan kedua belah pihak. Selain itu, kita perlu mengingat kembali tujuan bersama dalam pernikahan.
Satu hal penting yang perlu dilakukan adalah menghindari sikap saling mendiamkan karena hal tersebut dapat memperburuk komunikasi. Selain itu, jangan melibatkan pihak ketiga (keluarga atau teman), kecuali untuk memperoleh nasihat yang objektif. Pernikahan yang kuat bukanlah pernikahan tanpa konflik, melainkan pernikahan yang mampu melewati konflik dengan saling menghormati.
Melupakan ikrar atau janji pernikahan dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti kesibukan, konflik, atau perubahan perasaan dalam hubungan. Namun, jika hal ini mulai memengaruhi hubungan, penting untuk mengingat kembali komitmen yang pernah dibuat dan berupaya memperbaiki hubungan. Pernikahan membutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Jika ikrar pernikahan sempat terlupakan, bukan berarti ikrar tersebut tidak dapat dihidupkan kembali.
Saya sendiri hampir melupakan ikrar pernikahan yang pernah saya ucapkan di hadapan Dewa-dewi. Namun, saya bersyukur karena diingatkan melalui ujian Huang Yi 2. Xie Shen En. Sejak saat itu, saya berusaha memperbaiki hubungan dan mengingat kembali komitmen yang telah dibuat. Hingga kini, setelah sepuluh tahun berjalan, pernikahan kami menjadi semakin harmonis. Xie xie kepada Mahadewa Thay Shang Lao Cin yang telah mengingatkan saya melalui ujian Huang Yi. Melalui proses yang telah saya paparkan, saya merasa sangat bersyukur karena tidak melupakan ikrar pernikahan. Bagi saya, ikrar tersebut seperti sumpah yang harus saya laksanakan dan bersifat sangat sakral. Pertanyaannya, maukah kita merevisi diri demi hasil yang lebih baik?
Sebagai renungan, jika saya diminta menyebutkan lima orang terpenting dalam hidup saya, lalu satu per satu dihilangkan hingga tersisa satu orang saja, kemungkinan besar yang tersisa adalah pasangan hidup saya. Dari ilustrasi ini, sudah jelas bahwa orang yang akan menemani kita hingga akhir hayat adalah pasangan hidup. Jadi, jangan sampai kita melupakan ikrar pernikahan. Xie Shen En.
