Belajar Seumur Hidup

Pernah saat saya masih bersekolah, seorang guru mengatakan bahwa proses belajar itu seumur hidup. Tentu saja saya tidak percaya dengan kata-kata tersebut pada waktu itu. Bagi saya, belajar hanya saat saya masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Setelah itu, selesai sudah proses belajar. Siapa yang mau terus-menerus belajar seumur hidupnya? Kalau saya sudah pasti tidak berminat. Cita-cita saya adalah lulus kuliah lalu bekerja dan kemudian menikah, happily ever after, seperti cerita Cinderella. Sudah terbayang di benak saya alangkah menyenangkan bila sudah terbebas dari status pelajar, memasuki dunia mahasiswa dan kemudian bekerja. Bagi saya belajar merupakan siksaan tersendiri, terbelenggu karena proses dan materi belajar yang tidak saya sukai tetapi harus dikuasai agar setidaknya tidak mendapatkan nilai merah. Karena itu, kalimat belajar adalah seumur hidup tidak pernah ada dalam kamus saya. 

Meskipun demikian, saya menjalasi waktu saat di sekolah dan kuliah dengan lancar. Saya lulus dengan nilai cukup baik dan ini menjadi saat-saat kebebasan saya. Saya merayakannya dengan bersantai sejenak selama dua tiga bulan, bahkan tawaran kerja oleh salah satu perusahaan nasional pun dengan sombong saya kesampingkan karena saya mau beristirahat sejenak dari rutinitas belajar. Banyak yang menyayangkan keputusan saya untuk menolak kesempatan kerja di perusahaan tersebut, tetapi saya tetap pada pendirian saya. Sudah 18 tahun saya sekolah (dari TK sampai lulus kuliah) sudah sewajarnya saya menikmati kebebasan saya dulu walau hanya sebentar. Tidak terasa sudah 2,5 bulan saya bersantai dan sudah saatnya untuk mencari pekerjaan. 

Mencari pekerjaan tidak semudah yang saya bayangkan. Terdapat beberapa lowongan pekerjaaan, tetapi saya tidak berminat dikarenakan beberapa faktor seperti lokasi, job description, atau gaji. Ada lowongan yang saya inginkan ternyata tidak direspon oleh perusahaan. Saya agak menyesali keputusan saya dulu, ternyata mencari pekerjaan yang cocok tidaklah mudah. Mulailah saya belajar untuk tidak terlalu terpaku kepada kriteria-kriteria pekerjaan yang saya inginkan. Saya mulai memilah kira-kira kriteria mana yang masih dapat saya kesampingkan dulu dan kriteria mana yang masih dapat saya terima. Setelah proses ini, tidak lama kemudian saya mendapatkan pekerjaan. Tentu tidak persis sesuai dengan keinginan saya semula, tetapi itu cukup baik bagi saya. Memasuki dunia pernikahan membuat saya semakin belajar untuk mengalah, menerima perbedaan, mengakui kekurangan, mendengarkan untuk memahami, dan tidak egois demi keharmonisan keluarga, serta menjadi seorang taoyu benar-benar membuat saya mengerti bahwa belajar itu dilakukan seumur hidup. Awalnya saya merasa bukan suatu keharusan datang ke taokwan untuk mendengarkan ciang tao karena kebanyakan materi yang diberikan seputar anjuran untuk berbuat kebaikan. Saya merasa sudah tahu bagaimana menjadi orang baik, tetapi semakin saya sering mendengarkan ciang tao dan kembali membaca buku-buku Tao, saya menyadari bahwa yang diketahui hanyalah sebatas permukaan dan belum sampai ke dasar. Untuk terus berkembang, kita harus belajar. Apabila kita berhenti belajar maka saat itulah kita berhenti berkembang. Belajar bukan sekadar mengerti teori tetapi juga memerlukan tindakan atau praktik. Setiap hari kita mengalami berbagai peristiwa, di situlah kita mempraktekkannya, seperti bagaimana sikap kita ketika mengalami peristiwa X, keputusan apa yang diambil sehubungan dengan kejadian Y, bagaimana menghadapi seseorang dengan karakter A, B, C, bagaimana pandangan kita terhadap segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, orang lain, dan dunia. Semua itu adalah kesempatan kita untuk belajar. Dengan belajar diharapkan kita akan berproses menjadi lebih baik dan sempurna.

Berikan komentar

seventeen − 8 =