Kehidupan kita mencakup banyak aspek. Dua aspek terpenting di antaranya adalah aspek kemanusiaan dan aspek ketuhanan atau kedewaan. Aspek kemanusiaan berkaitan dengan segala hal yang dijalani di dunia sebagai makhluk yang berakal budi dan beretika. Sementara itu, aspek ketuhanan atau kedewaan merupakan aspek spiritual yang menjadi cita-cita dan harapan manusia untuk mencapai dunia ideal yang abadi. Dalam keseharian, kita selalu dihadapkan pada realita dan harapan.
Tatkala seseorang terlalu terlena dalam keduniawian, ia akan melakoni perannya dengan sepenuh hati dan menyatu dalam hiruk-pikuk kehidupan. Pergi pagi, pulang petang, masih ditambah dengan percekcokan kecil bersama pasangan, kesibukan mengejar target pekerjaan kantor, terus-menerus memikirkan utang yang harus dibayar, serta dihantui ketakutan akan masa depan yang tidak pasti. Namun demikian, ia tetap tegar mengejar cita-cita dan mimpi yang belum terwujud. Dari bayi yang lucu, anak-anak yang gembira, remaja yang galau, dewasa yang penuh kekhawatiran, hingga menjadi tua dan menerima takdir. Saat menoleh ke belakang, ternyata sudah sejauh itu perjalanan dilalui, tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Hanya tahu menjalani dan terus menjalani sampai akhir kehidupan duniawi.
Sebaliknya, ketika seseorang terlalu larut dalam kehidupan surgawi, ia akan menganggap kehidupan duniawi yang materialistik hanyalah sesuatu yang sementara dan tidak bermakna. Cita-citanya hanyalah dunia ideal yang abadi—surga dan kehidupan abadi. Setiap kata, perbuatan, dan tindakannya tidak lepas dari nama Tuhan atau Dewa. Segala hal di dunia dikaitkan dengan Tuhan atau Dewa, seolah dirinya telah begitu dekat dengan-Nya. Sering kali, karena terlalu larut, Tuhan dan Dewa dijadikan pelarian atas kegagalannya di dunia. Saat mengalami kegagalan, ia akan berkata, “Mungkin Tuhan atau Dewa berkehendak lain.” Ia seakan-akan melepaskan kebebasan dan tanggung jawabnya untuk menjalani hidup di dunia, menyerahkan semuanya kepada Tuhan atau Dewa, dan tidak lagi memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk bertindak bebas dan menanggung akibat dari pilihannya sendiri.
Inilah dua kutub pandangan ekstrem dalam kehidupan: “masuk ke dunia (duniawi)” dan “keluar dari dunia (surgawi)”. Keduanya memiliki kelemahan. Memahami hanya satu aspek dari dua sisi kehidupan manusia menjadikan pemahaman kita tidak utuh. Sikap yang terlalu duniawi akan membuat kita kehilangan arah dalam menjalani hidup sebab terlalu sibuk dengan kesibukan dan keramaian dunia. Sebaliknya, sikap yang terlalu surgawi akan membuat kita menutup mata terhadap realitas kehidupan dan mencari-cari alasan untuk membenarkan segala situasi duniawi.
Lalu harus bagaimana?
Agama Tao mempunyai pandangan yang lengkap mengenai kehidupan. Baik kehidupan nyata duniawi maupun cita-cita surgawi yang abadi sama-sama dipentingkan. Kita diajarkan untuk menjalani kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya, penuh optimisme dan kepercayaan diri. Kita dianjurkan membangun kehidupan material yang cukup, tubuh yang sehat, dan hubungan sosial yang harmonis. Namun, agama Tao juga mengingatkan agar kita tidak terlena dengan kehidupan duniawi saja. Masih ada kehidupan abadi yang dapat diraih setelah kehidupan duniawi selesai. Kehidupan surgawi yang abadi ini harus diusahakan dan direncanakan sejak kita masih hidup di dunia, yakni melalui proses xiudao (siutao).
Pandangan agama Tao sangatlah gamblang: sukses duniawi dan sukses surgawi. Agama Tao tidak pernah mengajarkan kesombongan, tetapi justru menekankan sikap realistis sekaligus idealis; mengajarkan kita untuk menginjakkan kaki di bumi dan juga belajar terbang tinggi ke angkasa; mengajarkan optimisme dan kepercayaan diri, sembari menyadari adanya dunia ideal yang abadi dan keberadaan para Dewa; mengajarkan kita untuk masuk ke dunia (入世 rushi) sekaligus keluar dari dunia (出世 chushi). Agama Tao memberikan pandangan yang lengkap terhadap kehidupan ini.
“Umat manusia dari ayah ibunya dapat belajar rasa sayang, rasa gembira, dan berjalan-jalan. Setelah belajar Tao, baru mengetahui bahwa dirinya masih mempunyai sayap pula.”
(dikutip dari buku Siutao Menuju Kesempurnaan)
