Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran kita tidak pernah berhenti bekerja. Mungkin karena setiap hari selalu ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari urusan kecil sampai yang besar, dari persoalan makan sehari-hari sampai persoalan bisnis dan kesehatan; semuanya menyita pikiran kita. Karena terbiasa bekerja tanpa henti, bahkan saat tidur pun pikiran kadang-kadang masih memikirkan sesuatu dalam mimpi.
Bisa berpikir adalah bawaan manusia. Dibandingkan dengan hewan, kemampuan berpikir merupakan salah satu kelebihan manusia. Manusia dapat berpikir dan menyadari keberadaannya di dunia ini, sementara hewan mungkin tidak dapat melakukannya. Seorang filsuf abad pertengahan bernama Descartes mengatakan, “Aku berpikir maka aku ada.” Dengan pikirannya, manusia juga dapat mengerti tentang kemuliaan dan keabadian serta mencari Tao yang abadi.
Namun, di sisi lain, pikiran manusia terkadang justru menjadi penghalang untuk melampaui batasannya sendiri. Karena terbelenggu oleh pikirannya sendiri, kita sering terkunci dalam kondisi yang kita pikirkan sehingga tidak dapat melihat kemungkinan lain. Dengan kata lain, pikiran kita sendiri membuat kita mati di satu titik.
Contoh 1: Ada seorang pemuda yang berteman dengan dua orang gadis, sebut saja gadis A dan gadis B. Pemuda tersebut tertarik kepada gadis A sehingga setiap saat perhatiannya hanya tertuju pada gadis A. Padahal gadis A tidak pernah menyukai pemuda itu, sedangkan gadis B justru menaruh perhatian lebih kepadanya. Akan tetapi, karena pikiran pemuda itu sudah terbelenggu oleh gadis A, sebaik apa pun gadis B tidak pernah tampak. Sampai pada suatu titik ketika pemuda itu dapat melepaskan pikirannya sendiri, barulah ia dapat melihat realitas yang sesungguhnya, yakni menyadari kebaikan gadis B yang ternyata lebih menghargai keberadaannya.
Contoh 2: Ada seseorang yang saat bepergian ke suatu tempat hanya sibuk berfoto dengan alasan mengabadikan setiap momen. Setiap tiba di suatu tempat, yang diperhatikannya hanyalah gadget di tangannya, sibuk mencari sudut yang tepat untuk mengambil gambar. Pikirannya telah terbelenggu oleh gadget tersebut. Jika sesekali ia melepaskan gawai itu dan mengendapkan batinnya sejenak, menarik napas panjang, serta membiarkan jiwanya merasakan keindahan pemandangan di sekelilingnya, ia pasti akan memperoleh kebahagiaan yang berkali lipat dibandingkan sekadar sibuk berfoto.
Kedua contoh tersebut hanyalah ilustrasi. Hal-hal seperti pada kedua contoh di atas sangat sering kita alami. Pikiran kita membatasi ruang gerak kita sendiri, menyempitkan dunia kita, seakan-akan kita melihat dunia hanya melalui lubang jarum. Dunia terasa begitu sesak sehingga bernapas pun terasa sulit. Belenggu pikiran ini dalam jangka panjang akan memengaruhi kesehatan mental kita. Lambat laun, karakter kita dapat terpengaruh, menjadi kaku, dan kehilangan kelenturannya. Begitu menghadapi keadaan yang tidak sesuai, kita mudah naik pitam, mudah marah, dan mudah kecewa.
Rela melepaskan pikiran kita sendiri akan membuka belenggu batin, membuka dunia yang lebih luas, serta membuka pandangan terhadap realitas yang lebih objektif, sekaligus membuat napas terasa lega dan panjang. Karakter kita pun akan menjadi lebih rileks dan tidak mudah tegang. Tanpa disadari, kita juga akan menjadi lebih sehat dan bahagia.
Dengan mampu melepaskan belenggu pikiran, kita dapat menembus keterbatasan dan menyadari bahwa dunia sebenarnya luas dan terbuka, tidak hanya selebar daun kelor.
Manusia harus hidup dalam dunia, kalau bisa lupakanlah akan di dalam dunianya,
sudah sadar sedemikian, barulah dapat lepas dari diperbudak benda-benda
dan menikmati kenikmatan alamiah.
(Siutao menuju Kesempurnaan)
