Dalam budaya Tiongkok kuno, konsep bakti kepada orang tua atau xiao (孝) bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga dianggap sebagai dasar dari seluruh etika dan keharmonisan sosial. Salah satu kisah paling dramatis dalam Dua Puluh Empat Kisah Bakti Anak adalah cerita tentang Guo Ju (郭巨), yang dikenal dengan Mái Ér Fèng Mǔ (埋儿奉母) atau “Mengubur Anak demi Merawat Ibu”.
Guo Ju hidup pada masa Dinasti Han di sebuah desa kecil yang serba terbatas. Ia adalah seorang pria miskin yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua, istrinya, dan seorang anak laki-laki yang masih kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga ini hidup sangat sederhana, bahkan dapat dikatakan berada dalam kondisi kelaparan.
Namun, Guo Ju sangat menghormati dan mencintai ibunya. Ia selalu memastikan ibunya makan lebih dahulu, bahkan saat persediaan makanan sangat sedikit. Seiring bertambahnya usia, ibunya mulai sering sakit sehingga membutuhkan perhatian dan makanan yang lebih bergizi.
Masalah muncul ketika anak mereka mulai tumbuh besar dan membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak, sementara jumlah makanan yang dimiliki keluarga Guo Ju sangat terbatas. Guo Ju dan istrinya menyadari bahwa makanan yang sedikit itu tidak cukup untuk merawat ibunya dengan baik. Dalam keputusasaan, Guo Ju mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang sangat ekstrem, yaitu mengubur anaknya sendiri agar makanan dapat sepenuhnya dialihkan untuk ibunya.
Istrinya, meskipun dengan berat hati, menyetujui keputusan tersebut karena ia juga berbakti kepada ibu mertuanya. Oleh karena itu, pada suatu hari, Guo Ju mulai menggali lubang di tanah untuk mengubur anak mereka.
Namun, saat menggali, cangkulnya membentur sesuatu yang keras. Ketika mereka membersihkannya, benda itu ternyata sebuah peti emas yang berisi emas batangan dalam jumlah cukup banyak. Kejadian itu mengubah segalanya.
Dengan emas tersebut, mereka dapat membeli makanan, merawat ibunya dengan baik, dan tetap membesarkan anaknya. Kisah ini kemudian menjadi simbol bahwa langit akan menolong mereka yang benar-benar tulus dalam baktinya kepada orang tua.
Makna dan Renungan
Dalam konteks modern, tindakan Guo Ju tentu dianggap ekstrem, bahkan tidak bermoral. Namun, konteks budaya dan zamannya memperlihatkan satu hal penting, yaitu tingginya tingkat pengorbanan yang dianggap mulia dalam berbakti kepada orang tua.
Kisah ini mengajarkan bahwa seseorang yang benar-benar memiliki hati yang tulus akan siap melakukan apa pun demi kebaikan orang tuanya. Dalam ajaran Tao, xiao bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan hati, bahkan lebih tinggi daripada cinta terhadap anak sendiri.
Pada masa modern, bentuk pengorbanan tentu tidak harus seperti yang dilakukan Guo Ju. Namun, kisah ini tetap relevan untuk mengingatkan kita bahwa orang tua adalah sumber kehidupan kita. Ketika mereka memasuki masa tua, kita memiliki tanggung jawab penuh untuk membalas jasa mereka, bukan hanya secara materi, tetapi juga dengan kasih sayang, perhatian, dan kesabaran.
Di tengah kesibukan dunia modern, banyak anak merasa cukup hanya dengan mengirimkan uang kepada orang tua. Padahal, orang tua lebih membutuhkan kehadiran, perhatian, dan cinta. Mungkin kita tidak perlu mengubur anak seperti Guo Ju, tetapi apakah kita rela “mengubur ego” kita sendiri demi membahagiakan orang tua?
Kisah Guo Ju menunjukkan bahwa bakti sejati terkadang menuntut pengorbanan besar. Walaupun kisah ini sulit diterima oleh logika modern, pesan moralnya tetap menyala.
“Bakti kepada orang tua adalah jalan suci yang tidak pernah lekang oleh zaman.”
