Penyanderaan Moralitas atau 道德綁架 (Dào dé bǎng jià) mengacu pada fenomena di mana orang menggunakan standar yang tinggi atau bahkan tidak realistis untuk menuntut, memaksa, atau menyerang orang lain, serta mengendalikan perilaku seseorang dengan mengatasnamakan moralitas. Baik secara sadar maupun tidak sadar, fenomena ini tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan manusia. Orang-orang menggunakan sebuah “ancaman” atas nama moralitas untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau menggunakan sudut pandang tertentu untuk “membunuh moralitas” seseorang.
Padahal seharusnya sebuah kebaikan bukanlah sebuah pemaksaan. Kebaikan seharusnya dilakukan dengan hati yang tulus dan ikhlas tanpa adanya unsur pemaksaan dari pihak mana pun.
Banyak sekali orang yang melihat suatu hal hanya dari satu sisi, tanpa mengetahui kebenaran. Orang-orang seperti inilah yang menjadi pembantu pelaku penyanderaan moralitas. Misalnya saja, di suatu pusat perbelanjaan kita menemukan anak yang menangis, berteriak, dan berguling-guling meminta dibelikan mainan, sedangkan orang tuanya tidak memedulikannya. Orang di sekitar sudah pasti mulai menilai bahwa orang tua ini terlalu tega terhadap anaknya dan bukanlah orang tua yang baik.
“Mengapa tidak dibelikan saja?” atau “Mengapa tidak menenangkan anaknya?” “Mengapa membiarkan anaknya menangis di sana?” Namun, sebagai orang yang hanya melihat kejadian, apakah kita paham bagaimana sebenarnya yang terjadi? Bagaimana kondisi ekonomi orang tua? Apakah orang tua tidak berusaha menenangkan anaknya? Atau mungkin kejadian seperti ini memang sering dilakukan anaknya sehingga orang tua tidak lagi mengikuti kemauan anaknya sebagai bagian dari upaya mendidik?
Contoh lainnya bisa juga terjadi dalam hubungan pacaran. Salah satu pihak mengatasnamakan cinta untuk mengontrol dan membatasi pasangannya secara berlebihan, atau meminta segala sesuatu atas nama pengorbanan sehingga membuat pasangannya merasa tidak nyaman.
Hal serupa bisa terjadi pada orang yang lebih tua yang “menjual” ketuaannya untuk dihormati dan mendapatkan keuntungan tertentu. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang baik merasa lelah untuk tetap menjadi “baik”.
Ingatlah bahwa sebuah kebaikan seharusnya dilakukan berdasarkan ketulusan hati dan kemauan sendiri, bukan karena paksaan. Hentikan memaksa orang lain untuk berbuat baik dengan menggunakan penyanderaan moralitas ini.Untuk menjadi baik ataupun tidak baik, bukanlah manusia lain yang berhak menilai. Tidak ada standar pokok dalam menilai kebaikan. Sebuah kebaikan adalah perbuatan tulus yang tidak perlu diukur dan dinilai. Lakukanlah sesuai dengan hati nurani dan tanpa mengharap pamrih atau wu wei (无为).
