Zhu Sheng Niang Niang (注生娘娘)

Umat manusia dalam perjalanan kehidupan pada umumnya mengharapkan wu fu (五福)  atau lima rezeki. Salah satu dari wu fu tersebut adalah dīng (丁), yaitu kehadiran keturunan yang baik-baik, yang sangat diidamkan oleh pasangan suami istri serta kedua orang tuanya.

Secara tradisi kuno, setiap pasangan yang telah menikah dituntut untuk segera memperoleh keturunan, terutama anak laki-laki yang dianggap sebagai penerus nama keluarga. Hal ini menjadi tekanan yang sangat berat bagi kaum wanita. Jika tidak kunjung memperoleh keturunan, tidak jarang seorang istri dipaksa bercerai atau dimadu.

Pada masa lalu, karena pengetahuan yang masih terbatas dan teknologi kesuburan belum berkembang sebaik sekarang, kaum wanita selalu disalahkan apabila tidak segera memiliki anak. Oleh karena itu, para wanita yang baru menikah dan belum juga memperoleh momongan senantiasa berdoa, mencurahkan isi hati, serta memohon dengan tulus, terutama agar dikaruniai bayi laki-laki, kepada Zhu Sheng Niang Niang (注生娘娘).

Kini pengetahuan dan teknologi kesuburan sudah sangat maju. Masyarakat telah memahami bahwa terjadinya kehamilan memerlukan sperma yang sehat dari pria dan ovum yang sehat dari wanita. Tanpa sperma yang sehat, kehamilan sulit terjadi. Kelahiran bayi laki-laki pun ditentukan oleh keberadaan kromosom Y dari sang ayah. Oleh karena itu, umat Tao menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan berlatih Dao Yin Shu (导引术).

Jika setelah beberapa tahun menikah, pasangan suami istri masih belum memperoleh keturunan, disarankan untuk memeriksakan diri secara medis dan mencari solusi yang tepat. Di samping itu, keduanya juga dapat memohon kepada Zhu Sheng Niang Niang atau mengikuti Qiu Zi Yi Shi (求子仪式), yakni ritual permohonan anak dalam agama Tao. Dengan menjalankan kedua cara tersebut, disertai kebiasaan berbuat kebajikan, peluang untuk memperoleh berkah dari Zhu Sheng Niang Niang akan semakin besar.

Zhu Sheng Niang Niang merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang tokoh wanita Tao yang hidup pada masa Dinasti Tang. Beliau tinggal di daerah Lin Shui, Kabupaten Gu Tian, Provinsi Fu Jian. Sejak berusia belasan tahun, gadis bernama Chen Jing Gu (陳靖姑) ini telah menunjukkan minat mendalam terhadap ajaran Tao, ilmu bela diri, dan ilmu pengobatan.

Pada masa itu tenaga medis masih sangat terbatas. Proses persalinan seorang ibu tergolong berbahaya dan menjadi pertaruhan antara hidup dan mati, baik bagi sang ibu maupun bayinya. Sedemikian tingginya angka kematian ibu dan bayi dalam proses persalinan sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa proses melahirkan seperti melewati neraka dan menembus kerumunan arwah.

Prihatin terhadap kondisi tersebut, Chen Jing Gu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk menolong para ibu dan membantu kelancaran proses kelahiran. Karena banyak yang terbantu, nama beliau pun tersebar luas dari mulut ke mulut hingga ke berbagai daerah. Orang-orang kaya dari tempat jauh bahkan sengaja datang untuk meminta bantuan beliau.

Suatu ketika, Chen Jing Gu membantu seorang ratu yang mengalami kesulitan dalam kehamilannya hingga berhasil melalui persalinan dengan selamat. Kaisar De Zong dari Dinasti Tang sangat terkesan pada Chen Jing Gu sehingga sang kaisar mendirikan Lin Shui Gong dan menganugerahkan gelar Lin Shui Fu Ren (臨水夫人) kepada beliau..

Zhu Sheng Niang Niang atau Lin Shui Fu Ren digambarkan sebagai sosok wanita keibuan yang sedang menggendong bayi atau memegang buku catatan kelahiran di tangan kiri dan kuas (mao bi) di tangan kanan. Hari kebesaran-Nya dirayakan setiap bulan ketiga tanggal dua puluh menurut penanggalan Imlek (农历:三月二十日).