Setiap orang yang kecewa atau marah, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, sebaiknya belajar menerima dan memaafkan. Dalam memaafkan, memang tidak bisa dipaksakan atau berlangsung begitu saja. Dibutuhkan proses agar kita dapat memaafkan sepenuhnya, meskipun kita masih mengingat kekecewaan atau kemarahan tersebut. Hal ini karena memaafkan dilakukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain.
Proses pertama yang akan kita lewati saat ingin memaafkan adalah fase perkenalan, yakni tahap ketika kita kembali mengingat peristiwa menyakitkan yang membuat kita sulit memaafkan. Pada tahap ini, kita akan memikirkan alasan peristiwa tersebut terjadi. Biasanya, di sini kita akan kembali merasakan sakit dan mungkin akan meluapkan emosi, seperti berteriak, menangis, dan sebagainya.
Tahap kedua adalah mengambil keputusan untuk memaafkan. Kita harus memikirkan alasan kita perlu memaafkan orang tersebut. Setelah melalui banyak pertimbangan, kita harus memutuskan apakah kita akan memaafkan atau tidak. Bila kita memutuskan untuk tidak memaafkan, itu boleh-boleh saja karena proses memaafkan setiap orang berbeda dan membutuhkan waktu. Meskipun demikian, kita perlu memahami bahwa memaafkan dilakukan untuk diri kita sendiri, demi kebahagiaan dan ketenangan batin kita.
Tahap ketiga adalah tindakan memaafkan. Cobalah berpikir dari sudut pandang pelaku. Cari tahu motif mereka melakukan hal yang membuat kita kecewa dan sakit hati.
Tahap terakhir adalah pendalaman. Pada tahap ini, kita mulai memahami situasi peristiwa itu serta motif orang yang bersangkutan. Dengan demikian, kita akan lebih mampu memaafkan sepenuhnya. Bila kita sudah dapat memaafkan, hati kita akan dipenuhi perasaan damai, tenang, dan bahagia. Kita juga dapat mulai menata kembali diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana daripada sebelumnya.
Saat kita bertemu dengan orang yang pernah menyakiti kita—yang sebelumnya membuat kita marah—lambat laun, setelah kita memaafkan, perasaan kita akan menjadi biasa saja ketika bertemu dengannya lagi. Kita mungkin tidak pernah melupakan peristiwa itu, tetapi kita sudah tidak lagi merasa emosi atau marah ketika mengingatnya.
