Naik Turun Kehidupan

Di dunia ini, perjalanan hidup setiap manusianya serupa tapi tak sama, tak ubahnya seperti sebuah petualangan pribadi. Apa yang kita jalani tidak sama dengan orang lain. Selalu ada yang lebih hijau daripada yang hijau, selalu ada yang lebih hitam daripada yang hitam. Tidak ada gunanya saling membanding-bandingkan. Karena melihat yang lebih hijau, mungkin bisa membuat iri. Melihat yang lebih hitam, mungkin bisa membuat angkuh. Keduanya sama-sama merusak mutu diri.

Iri dengki merupakan awal mula dari pusaran perusak dalam hati, menyeret diri kita turun menjadi pribadi yang picik. Sementara keangkuhan, bagaikan sebuah tangga kaca yang rapuh—sebuah ilusi yang membuat seseorang merasa tinggi tapi takkan bisa bertahan lama, suatu saat akan jatuh juga. Tinggi dan rendah, di atas dan di bawah, semua hanyalah proses hidup saja, saling bergantian tak ada yang abadi. Namun sesungguhnya, hidup manusia sudah sangat penuh dengan kesulitan dan rintangan. Alangkah indah, apabila kita semua saling menguatkan saling membantu.

Saat di atas, jangan sombong. Ulurkanlah tangan, tarik saudara-saudara kita yang kurang beruntung, dukung kawan-kawan kita untuk bangkit. Tetap rendah hati, karena sebenarnya diri kita hanyalah makhluk kecil di dalam semesta yang besar. Satu bencana kecil saja dapat membuat orang terhebat sekalipun bertekuk lutut. Maka harus selalu ingat untuk menyisihkan kelebihan untuk membantu yang membutuhkan.

Saat di bawah, jangan pernah putus asa. Harapan adalah bahan bakar hidup—dorongan motivasi agar bisa bangkit kembali. Tegarkan diri, kuatkan hati. Optimis, namun tetap objektif dan realistis, inilah kunci cara pandang dalam menghadapi masalah. Selalu ada jalan keluar dalam setiap kesulitan, selalu ada uluran tangan dewa-dewi jika hati kita tulus. Maka teruslah berjuang dan hadapi naik turun kehidupan dengan gagah berani.

Berikan komentar

8 − 4 =