Pembelajaran dalam Kehidupan dengan Siutao

Ketika seseorang lahir di dunia ini, kita tidak membawa apapun.

Apakah kita langsung bisa berenang? Tentunya tidak.

Tetapi kita belajar dari yang sudah bisa berenang sebelumnya untuk mengajari kita, dan tentunya kita tidak akan belajar di kolam air yang dalam dengan orang yang tidak bisa berenang, karena akan tenggelam bersama.

Demikian juga ketika seseorang membaca artikel, misalnya tentang tips solusi bilamana tersesat di gurun. Apakah berguna saat itu? Mungkin tidak, tetapi bilamana terjadi, maka pengetahuan tersebut bisa menyelamatkan yang bersangkutan.

Dari mana pengetahuan artikel tersebut? Apakah penulis adalah orang yang pernah tersesat? Jawabnya mungkin sebagian besar justru tidak pernah mengalaminya, tetapi mungkin mengambil kesimpulan dari cerita pengalaman orang lain, dan logika ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian digabungkan menjadi satu pengetahuan untuk menolong orang-orang.

Bagaimana dengan Siutao kita ?

Kita Siutao adalah belajar merevisi (Siu) sesuai jalan menuju kesempurnaan yang berlandaskan ajaran Tao. Apakah ketika kita ingin belajar Siutao untuk menjadi sempurna, maka kita harus belajar dari orang yang sudah terbukti berpengalaman sempurna menjadi

Dewa?

Jawabnya tentu saja “tidak”, karena arti kesempurnaan dalam penilaian orang lain adalah relatif. Kalau begitu siapa yang paling berhak menilai kesempurnaan seseorang? Maka kita mengatakan bahwa penilaian yang paling tepat adalah penilaian dari Mahadewa. Kapan dan apa yang dinilai? Logisnya adalah perjalanan hidup seseorang sampai tutup peti. Itulah sebabnya mengapa perjalanan hidup seseorang sangat penting, dan bagaimana caranya kita bisa mengetahui apa yang sudah kita jalankan dalam kehidupan ini adalah sudah tepat?

Ketika kita ingin belajar Tao, waktu pertama adalah kita mendengar “kebaikan” mungkin dari teman, kerabat atau saudara kita dengan cerita kebaikan menurut mereka, dan bilamana logis sesuai pemikiran kita, maka berlanjut dengan mendengarkan ceramah ajaran guru tersebut atau mungkin senior-senior lain, dan dilanjutkan dengan kita memohon agar dijadikan murid dalam sebuah upacara yang disebut dengan upacara “Taoying”. Dan sebelum itu, biasanya diberikan wejangan dan delapan (8) anjuran dari sang guru sebagai syarat untuk belajar, di mana salah satunya adalah tidak ada ikatan antara guru dan murid. Kenapa disebut tidak ada ikatan? Karena Siutao adalah harus dari kesadaran diri sendiri dan tidak perlu merasa sudah terikat kalau merasa tidak cocok ajarannya meski sudah di-Taoying.

Kemudian selanjutnya, kita belajar di bawah bimbingan sang guru yang kita panggil “Shifu” dan menjadikan ajaran maupun karakter Shifu sebagai teladan bagi kita semua. Dalam perjalanan yang cukup panjang setelah 3 tahun, si murid yang ingin belajar lebih lanjut, mengajukan diri dengan kemauan sendiri untuk menjadi murid tingkatan berikutnya dari sang guru yang disebut tingkatan Huang Yi (HY) dengan tingkatan 1, 2, 2A, 2B, 2C, dan 3. Untuk lulus tingkatan 1 dan 2, seseorang harus mengajukan diri dan mendapatkan pertanyaan yang harus dijawab, dan diajukan kepada Shifu. Kelulusan tingkatan tersebut melalui penilaian dari Shifu dan juga atas sepersetujuan dari Dewa. Apabila lulus, maka yang bersangkutan dilantik dan diberikan sumpah yang mengikat, misalnya tidak boleh sembarang menggunakan ilmunya dan sebagainya.  Tingkatan ini satu-persatu kalau dijalankan, maka akan membutuhkan waktu paling cepat 18 tahun dari waktu Taoying sampai dengan tingkat 3 (setiap tingkatan membutuhkan minimal 3 tahun dan mungkin lebih).

Sungguh suatu proses pembelajaran yang sangat panjang dan kenapa kita memerlukan tingkatan Huang Yi dalam proses Siutao ini? Karena dalam perjalanan hidup yang panjang ini  ibarat berjalan di tengah gurun kehidupan yang luas, apa yang menjadi patokan kita dalam berjalan di tengah gurun? Bayangkan kalau kita berjalan tanpa adanya patokan, jangan-jangan Siutao kita hanya berputar-putar dalam kehidupan ini tanpa kejelasan arah. Dengan adanya patokan, kita bisa mengetahui jalan yang sudah kita lalui sudah tepat.

Menjadi Huang Yi bukanlah sekedar jubah, kalau hanya berpikir demi sebuah jubah, maka kita bisa minta tukang jahit untuk membuatkan jubah tersebut, kalau perlu dengan benang emas. Namun, Huang yi adalah sebuah simbol pencapaian proses kesempurnaan dalam kehidupan sehingga sangat disayangkan kalau mengganggap Huang Yi (HY) ini sebagai sebuah piala dan melupakan bahwa Huang Yi (HY) adalah bentuk wujud penilaian dari Guru dan Dewa.

Dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya, kita akan mengalami gemblengan baik fisik maupun mental yang harus kita jalani (revisi), ada “target-target” yang harus kita jalankan, yang diinginkan sang guru dan juga Dewa sebagai guru pembimbing. Kehidupan di dunia ini menjadi tempat pelatihan kita dalam proses Siutao kita ini.

Teori-teori dari ajaran yang sudah lengkap diberikan sang guru, dan disadari atau tidak, adanya bimbingan Dewa dalam kehidupan sehari-hari, tapi yang dinilai bukan berapa banyak teori yang kita kuasai, tetapi bagaimana menerapkan teori yang kita dapatkan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang seringkali tidak disadari oleh kita, bahwa pencapaian-pencapaian yang dilakukan tidak akan pernah selesai selama seseorang masih hidup di dunia. Setiap saat seseorang masih akan terus memilih dalam hidupnya, membuat keputusan untuk pilihan-pilihan hidupnya yang bisa membuat dirinya menjadi bertambah baik atau buruk dalam waktu yang sangat cepat.

Semua orang yang Siutao mengerti secara teori bahwa kita harus bisa melepaskan belenggu-belenggu dalam kehidupan ini. Karena belenggu-belenggu ini yang akan menghambat proses

Siutao seseorang. Contohnya, kita mengerti belenggu kesombongan akan menjatuhkan seseorang, tetapi bagaimana menyadari kita sudah menjadi sombong? Pujian dari orang di sekeliling, yang mana semakin tinggi posisi, akan semakin banyak yang memuja dan akan membuat seseorang mudah menjadi lupa diri, ditambah keangkuhan yang akan membuat seseorang sulit untuk menerima pandangan orang lain karena memposisikan diri lebih tinggi daripada lainnya.  Selain itu juga ada ambisi yang melahirkan keserakahan, gengsi yang membuat sulit mengakui kesalahan. Akhirnya, semakin jauh berjalan tanpa disadari sudah semakin terperangkap dalam fatamorgana di tengah gurun, semua pembenaran yang dilihat adalah “ilusi” karena semua dibenarkan oleh pandangan-pandangan yang lahirnya dari pikiran sendiri. Itulah sebabnya proses Siutao adalah unik dan tidak mudah untuk mencapai kesempurnaan karena proses yang terus-menerus sampai tutup peti dan setiap saat bisa tergelincir. Penting bagi kita untuk mengerti posisi guru dan posisi Dewa sebagai pembimbing. Ketika sang guru sudah tiada, apakah kita sudah mengerti kenapa kita harus mengikuti arah kepemimpinan yang ditunjuk sang guru dan melestarikan perguruan? Tidak lain adalah demi kita sendiri, karena kita seharusnya menyadari bahwa kalau kita gagal dalam proses menuju kesempurnaan dalam kehidupan ini, maka akan terus berlanjut dalam kehidupan mendatang. Sehingga penting bagi kita untuk melestarikan ajaran sang guru dalam satu wadah (perguruan) yang terus dijaga kepemimpinannya dari satu generasi ke generasi mendatang.

Berikan komentar

two × one =