Serba Serbi Sejarah – Zhang Liang

Zhang Liang lahir pada periode Negara Berperang (475 – 221 SM) di negara Han. Keluarganya merupakan pejabat tinggi di negara Han selama 3 generasi secara turun temurun. Namun, saat ia beranjak remaja, Ying Zheng dari Qin menaklukan negara Han dan menyatukan seluruh Tiongkok untuk pertama kalinya. Ying Zheng yang kita kemudian kenal sebagai Qin Shi Huang adalah kaisar pertama di daratan Tiongkok.

Merasa kehilangan segalanya, keluarga dan harta di usia yang sangat muda, Zhang Liang merasa berkewajiban untuk membalaskan dendam keluarga dan negaranya. Ia melakukan beberapa kali percobaan pembunuhan kepada Qin Shi Huang, namun gagal. Akhirnya, Zhang Liang menjadi buronan negara dan kabur ke kota Xiapi.

Suatu hari, Zhang Liang sedang berjalan melewati jembatan Yishui dan berpapasan dengan seorang kakek tua. Kakek itu tiba-tiba dengan sengaja menendang sepatunya jatuh ke bawah jembatan dan berteriak kepada Zhang Liang: “Hei, anak muda, tolong ambilkan sepatu saya itu!”. Walaupun merasa kaget, Zhang Liang membantu sang kakek tua mengambilkan sepatunya dari bawah jembatan. Kemudian sang kakek menunjuk kakinya dan menyuruh Zhang Liang memakaikan sepatu itu. Rasa jengkel dan marah begitu dirasakan di dalam hati Zhang Liang, namun Zhang Liang dengan rendah hati memendamnya dan memakaikan sepatu tersebut. Sang kakek hanya tertawa dan berjalan pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata ucapan terima kasih. Namun tidak lama sang kakek berkata: “Kamu anak muda yang baik, datanglah ke jembatan ini lima hari lagi di waktu subuh.”

Merasa bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan sang kakek, Zhang Liang hanya diam saja dan mengangguk pelan. Lima hari kemudian, Zhang Liang datang di waktu subuh, namun sang kakek sudah ada di sana. “Apa yang kamu lakukan sehingga membuat saya menunggu begitu lama? Datanglah kembali lima hari lagi!” Zhang Liang pun berusaha untuk datang lebih pagi, namun sang kakek sudah ada terlebih dahulu. Ia pun dimarahi oleh sang kakek yang menyuruhnya untuk datang lima hari lagi.

Lima hari kemudian, Zhang Liang pun memutuskan untuk menunggu sang kakek di jembatan sejak tengah malam. Tidak berapa lama, sang kakek pun datang dan memuji Zhang Liang sambil berkata: “Dalam waktu 10 tahun, dunia ini akan terjadi kekacauan, pelajarilah buku ini dan gunakanlah ilmunya untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan di negeri ini.” Kakek ini kemudian diketahui bernama Huang Shi Gong.

Zhang Liang kemudian bertanya kepada sang kakek: “Guru, kapan kita bisa bertemu kembali?” Sang kakek tersenyum dan menjawab: “Jika sudah saatnya nanti, kamu akan tahu.” Saat sejenak Zhang Liang melihat isi buku tersebut, sang kakek sudah tidak ada di hadapannya. Konon banyak sejarawan yang mempercayai buku itu adalah “Liu Tao”, salah satu karya strategi militer klasik oleh Jiang Ziya, namun banyak juga yang mempercayai bahwa judul buku itu adalah “Huang Shi Gong San Lue” atau 3 strategi oleh Huang Shi Gong.

Beberapa tahun pun berlalu, Zhang Liang bertemu dengan Liu Bang, mereka bersama-sama dengan Han Xin dan Xiao He, berhasil menundukkan Xiang Yu dari Chu dan membentuk dinasti Han pada tahun 202 SM. Tidak lama setelah Liu Bang menjadi kaisar pertama dinasti Han, Zhang Liang mengundurkan diri dari posisi pemerintahan dan pulang ke kampung halamannya. Di dalam perjalanannya, ia melewati kaki gunung Gucheng dan melihat sebuah batu besar berwarna kuning. Saat itu juga ia berlutut dan menangis tersedu (Huang Shi Gong, nama sang guru, jika diartikan secara harafiah menjadi kakek batu kuning). Setelah 13 tahun lamanya sejak Zhang Liang berjumpa dengan Huang Shi Gong di jembatan Yishui, akhirnya Zhang Liang bisa berjumpa kembali dengan “guru”nya walaupun hanya secara simbolis.

Konon, Zhang Liang membawa batu kuning ini pulang ke kampung halamannya, dan saat Zhang Liang wafat pada tahun 186 SM, Zhang Liang dikuburkan bersama batu kuning tersebut. Tidak banyak yang mengetahui di mana tempat peristirahatan terakhir seorang Zhang Liang. Namun, sumbangsihnya pada negara – khususnya dinasti Han— tidak dapat dilupakan rakyat dari generasi ke generasi.

Leave a comment

5 × 5 =