Di sebuah gunung yang sunyi, bernama Zhangshan, hiduplah seekor serigala yang dikenal oleh penduduk sekitar sebagai makhluk yang licik dan tidak kenal ampun. Suatu hari, serigala itu terjebak dalam sebuah perangkap besi yang dipasang oleh pemburu. Dengan cakar-cakar tajamnya yang kini tak lagi berdaya, ia meraung kesakitan. Suaranya menggema di seluruh hutan.
Tak lama kemudian, seorang petani yang baik hati berjalan melintasi gunung itu. Ia mendengar raungan pilu serigala dan memutuskan untuk mencari sumber suara tersebut.
Ketika ia menemukan serigala yang terperangkap, hatinya tergerak untuk menolong. “Serigala malang,” gumam petani itu, “Aku akan membebaskanmu dari penderitaan ini.”
Dengan segenap tenaga, ia membuka perangkap besi itu dan membebaskan serigala.
Namun, alih-alih bersyukur, serigala itu menatap petani dengan sorot mata lapar yang berkilat.
“Terima kasih,” ucap serigala dengan suara mengancam, “Sekarang aku lapar dan kau akan menjadi santapanku.”
Petani itu terkejut dan ketakutan. “Bagaimana mungkin kau akan memangsaku setelah aku menyelamatkan hidupmu?” tanyanya dengan gemetar.
Serigala hanya menyeringai. “Di dunia ini, yang kuat memangsa yang lemah. Kebaikanmu adalah kelemahan yang bisa dimanfaatkan.”
Karena putus asa, petani itu meminta serigala untuk mempertimbangkan kembali, dan bersama-sama mereka memutuskan untuk meminta pendapat makhluk lain di hutan.
Mereka bertemu dengan seekor sapi yang tua dan lemah. Petani itu menceritakan kisahnya, berharap sapi itu akan membela dirinya.
Namun, sapi hanya menggelengkan kepala dengan lelah. “Aku telah bekerja keras sepanjang hidupku untuk manusia, mengerjakan sawah mereka, membawa beban berat, tetapi apa yang aku dapat? Ketika aku menjadi tua dan lemah, mereka meninggalkanku begitu saja. Tak ada keadilan di dunia ini.”
Serigala semakin berani dan petani semakin putus asa.
Kemudian mereka menemui sebatang pohon besar yang rindang, berharap pohon itu akan memberikan jawaban yang berbeda.
Namun, pohon itu berkata, “Aku memberikan keteduhan, kayu, dan buah-buahan kepada manusia selama bertahun-tahun, tetapi apa balasan mereka? Mereka menebang anak-anakku dan merusak hutan tempatku tinggal. Sering kali kebaikan justru dibalas dengan keburukan.”
Petani semakin terpojok. Namun, pada saat yang genting itu, mereka bertemu dengan seorang pria bijak yang tinggal di dekat hutan. Petani segera menceritakan semua yang terjadi, berharap pria bijak itu dapat menyelamatkannya.
Pria bijak tersenyum kecil dan berkata, “Aku akan membantu kalian, tetapi aku ingin melihat bagaimana awalnya serigala terjebak.”
Mereka semua kembali ke tempat perangkap. Lalu pria bijak meminta serigala untuk masuk kembali ke dalam perangkap untuk memperagakan kejadian itu.
Serigala yang dipenuhi kesombongan dan tanpa pikir panjang, masuk kembali ke dalam perangkap untuk memperlihatkan bagaimana ia terjebak sebelumnya. Segera setelah serigala masuk, pria bijak dengan cepat menutup perangkap itu dan mengunci serigala di dalamnya.
“Kau memang pantas berada di sana,” kata pria bijak. “Kebaikan tidak seharusnya dibalas dengan kejahatan. Makhluk seperti kau harus diajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang memangsa yang lemah.”
Petani berterima kasih kepada pria bijak dan pergi dengan perasaan lega. Ia menyadari bahwa kebaikan tanpa kebijaksanaan dapat membawa bencana.
Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu harus diberikan tanpa pikir panjang. Meskipun berbuat baik adalah nilai yang luhur, seseorang harus bijaksana dalam melakukannya. Tidak semua makhluk yang tampak lemah dan membutuhkan pertolongan layak dibantu tanpa pertimbangan. Ada kalanya, kebaikan kita dapat disalahgunakan oleh mereka yang tidak tahu berterima kasih atau bahkan oleh mereka yang berniat jahat. Oleh karena itu, berhati-hatilah dan gunakan kebijaksanaan dalam setiap tindakan, terutama saat mempercayai orang lain.
